Cerpen
Cerpen: Suara dari Balik Dinding
Rumah mungil dengan jendela yang tak pernah dibuka lebar, karena aku tak ingin dunia tahu betapa pekat luka yang tinggal di dalamnya.
Butuh dua minggu setelah itu untuk aku berani melangkah. Aku datang ke rumah perlindungan perempuan diam-diam, mengisi formulir dengan tangan gemetar.
Aku belajar bahwa aku tak sendiri, bahwa ada ratusan perempuan lain dengan kisah serupa. Mereka menyembunyikan luka di balik senyum, menyisir rambut sambil menutupi lebam, memasak sambil menahan nyeri.
Dan mereka semua, seperti aku, pernah merasa diam adalah satu-satunya jalan. Tapi diam tak pernah menyelamatkan.
Kini aku menulis kisahku. Bukan untuk balas dendam. Bukan untuk membuka aib. Tapi untuk menyuarakan luka yang terlalu lama dibungkam.
Aku ingin perempuan-perempuan lain tahu bahwa mereka berhak hidup tanpa takut.
Bahwa cinta tak pernah berarti pukulan. Bahwa rumah seharusnya tak punya dinding yang menjadi saksi penderitaan.
Dan jika suatu hari anakku membaca ini, aku ingin ia tahu: mamanya pernah rapuh, tapi akhirnya memilih bangkit. Demi dia. Demi kami.
Aku masih takut. Tapi aku tidak lagi sendiri. Dinding itu masih bisu. Tapi aku sudah tak tinggal di baliknya.
Hari-hari pertamaku di rumah perlindungan bukanlah pelarian, tapi kelahiran kedua.
Aku bangun pagi tanpa rasa cemas, tanpa suara langkah kaki yang memekakkan batin, tanpa ancaman dalam bentuk sorot mata yang tajam. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku tidur dengan pintu tak dikunci bukan karena berani, tapi karena akhirnya merasa aman.
Dinda mulai kembali tersenyum. Ia bermain dengan anak-anak lain di sini, membuat origami, melukis pelangi, dan sesekali menyanyikan lagu-lagu kecil yang dulu jarang kudengar dari bibirnya.
Tak ada lagi gambar-gambar rumah tanpa jendela. Ia menggambar pohon, burung, dan langit. Aku rasa, anak-anak adalah penyair tanpa kata. Mereka menulis lewat warna, dan membaca lewat raut wajah ibunya.
Aku bertemu banyak perempuan di tempat ini. Ada Lilis, seorang guru SD yang dipukul suaminya hanya karena ia menolak menjual perhiasan warisan.
Ada Tari, yang wajahnya penuh bekas luka bakar akibat siraman air panas dari mertua yang tak puas dengan masakannya. Dan ada Rina, perempuan muda yang baru berusia dua puluh dua, membawa bayinya yang masih merah, hasil dari pernikahan paksa.
Kami duduk melingkar setiap malam. Saling menceritakan kisah. Tak ada penghakiman. Hanya mata yang berkaca-kaca, tangan yang saling menggenggam, dan doa-doa yang ditanam diam-diam di dalam dada.
Kami tahu, penderitaan kami berbeda, tapi suara luka kami sama: lirih, ragu, namun ingin bebas.
Di antara malam-malam itu, aku mulai menulis lagi. Bukan puisi untuk Dewa seperti dulu, tapi surat-surat untuk diriku sendiri.
Aku menulis tentang Nira kecil yang dulu suka membaca buku di bawah pohon mangga.
Tentang Nira remaja yang bercita-cita jadi guru, tapi menikah terlalu muda karena tekanan keluarga. Tentang Nira dewasa yang akhirnya tak
ingin mati dalam ketakutan.
Menulis adalah cara terbaikku untuk menyembuhkan. Setiap kata adalah benang, dan setiap kalimat adalah jahitan yang menutup sobekan jiwa. Dewa mencariku. Tentu saja.
Ia mengirim pesan. Memohon maaf. Mengaku bersalah. Ia bilang, hidupnya hampa tanpa aku. Ia menangis lewat pesan suara.
Ia kirim foto-foto lama kami saat bulan madu di Danau Toba, seolah kenangan itu cukup untuk menghapus semua malam penuh luka.
Tapi aku tidak lagi perempuan yang sama. Aku tak benci Dewa. Tapi aku tak ingin kembali.
"Maaf, aku memilih hidup," tulisku dalam balasan yang tak pernah ia balas lagi.
Ia mungkin marah. Mungkin mengutukku. Tapi aku tak peduli. Aku sudah terlalu lama hidup untuk orang lain. Kini, saatnya hidup untuk diri dan anakku sendiri.
Aku mulai ikut pelatihan keterampilan di rumah perlindungan. Menjahit, membuat kerajinan tangan, dan menulis modul pendidikan perempuan.
Seorang relawan dari lembaga hukum membantu kami memahami hak-hak perempuan, memberi kami kekuatan dari hukum yang sebelumnya terasa begitu jauh dari jangkauan kami.
Aku juga diberi kesempatan bercerita di sebuah acara radio lokal. Di sana, suaraku ditayangkan dengan nama samaran.
Aku bercerita tentang bagaimana luka bisa menyuarakan kebenaran, dan bagaimana cinta tak pernah seharusnya mengandung rasa takut. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere, Flores - Nusa Tenggara Timur
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-KDRT-AI.jpg)