Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Suara dari Balik Dinding

Rumah mungil dengan jendela yang tak pernah dibuka lebar, karena aku tak ingin dunia tahu betapa pekat luka yang tinggal di dalamnya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN AI
ILUSTRASI 

Kadang ia mengurungku di kamar mandi. Pernah satu malam, hanya karena aku menolak ikut ke pesta temannya, aku memilih menjaga Dinda yang demam, ia menyeretku dan mengunci pintu dari luar. 

Di dalam gelap, tanpa lampu, tanpa alas kaki, aku hanya bisa duduk di atas lantai yang lembab. Bau sabun, bau urin, dan bau tubuhku sendiri bercampur jadi satu dalam kehinaan. 

Aku bertahan di sana sampai pagi. Dan ketika pintu dibuka, ia hanya menatapku dengan mata hampa, seolah aku hanyalah kucing yang tertinggal dalam gudang. Ada hari ketika aku hanya ingin mati.

Aku pernah berdiri terlalu lama di dapur, memandangi pisau pemotong daging. 

Di benakku, ada bisikan yang berkata: “Kau tak akan merasa sakit. Kau akan bebas. Dan Dinda akan dibawa neneknya, ia akan selamat.”

Tapi saat kutatap mata Dinda dari jendela, ia sedang menggambar bunga dengan krayon rusak, aku tahu aku tak bisa mati. Aku harus bertahan, bukan untukku, tapi untuknya.

Suatu malam, setelah melihatku terjatuh karena didorong Dewa yang sedang marah soal tagihan listrik, Dinda memelukku diam-diam di kamar. “Mama masih sayang Papa?” tanyanya pelan.

Aku tak menjawab. Karena aku tak tahu apa jawabannya. Apakah cinta bisa bertahan di antara teriakan dan darah? Atau aku hanya takut sendirian, takut dicap sebagai perempuan gagal?

“Kalau Mama sedih, Mama bisa cerita sama Dinda,” katanya, suaranya begitu kecil.

“Tapi kalau Mama diam terus, Dinda juga jadi takut…” Saat itulah aku sadar: aku bukan satu-satunya yang terluka. Anak-anakku pun ikut berdarah, meski tanpa gores.

Waktu terus berlalu. Luka-luka itu bertumpuk seperti pakaian kotor yang tak sempat dicuci. Aku mulai kehilangan rasa. Hari-hariku diisi ketakutan, bukan cinta. 

Aku tak lagi memasak dengan sepenuh hati, tak lagi menyiram bunga, tak lagi menulis puisi seperti dulu. Hidupku hanya tentang bertahan.

Sampai suatu pagi, ketika aku sedang membereskan buku-buku Dinda, aku menemukan sebuah gambar. 

Ia menggambar sebuah rumah. Tapi anehnya, rumah itu hanya punya satu pintu dan tak ada jendela. Di dalam rumah itu, ada sosok perempuan dengan wajah sedih, dan di atasnya, ada tulisan tangan kecil: "Mama, ayo keluar."

Aku menangis. Tangisku bukan lagi diam. Gambar itu seperti suara dari Tuhan sendiri yang selama ini kupikir telah lupa padaku.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved