Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Pana dan Mone

Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

|
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh:  Oswal Amnunuh *

POS-KUPANG.COM - Alkisah, mereka tercipta dari ingin mencapai kesempurnaan. Mone membiarkan salah satu rusuknya berdiam di dalam Pana. 

Pana menggoda Mone dengan buah tak terberi itu. Sebab pada saat itulah, mereka bukan lagi dua melainkan satu.

Mone mulai menghubungkan segala hal romantis dengan dirinya. Sehabis mengikuti misa pemberkatan nikah di Paroki Nualain, Mone mulai rajin memikirkan nasibnya. 

Ia tekun meminta agar Pana menjadi yang terakhir baginya. Kisah cinta mereka cukup unik. Mereka bertemu di acara pelantikan OMK Paroki (Orang Muda Katolik) kala itu. 

Pertemuan itu menanamkan nama dan kesan di hati masing-masing. Mereka sempat berdansa empat kali. Itu kali pertama saya melihat Pana berdansa. 

Baca juga: Cerpen: Papan Luka

Inilah juga mengapa acara orang muda selalu ditunggu-tunggu. Waktu acara Hardiknas kemarin, mereka bertemu lagi ketika mendampingi anak-anak yang mengikuti perlombaan di sekolah tetangga. 

Pada saat itu, Mone sepakat dengan niatnya untuk meminta kontak Pana. Begitulah cara hubungan orang muda sekarang berjalan. 

Tak ada surat. Hanya niat dan selalu chat. Dengan begitu, perasaan akan perlahan terikat. 

Semenjak kontak intens, mereka sama-sama yakin dengan perasaan meluap-luap itu. Saya tak tahu persis kapan mereka mulai bersama. 

Seingat saya pada suatu Minggu, mereka berdua ke Gereja dengan satu motor. Setelah itu, saya yakin bahwa mereka sudah berpacaran.

Mone pernah memikirkan tentang rasa yang ia miliki saat ini. Dia menjelaskan panjang lebar pada saya. 

“Tak ada yang paham bagaimana perasaan itu muncul. Perasaan tertarik kepada lawan jenis misalnya. Apakah perasaan itu muncul seperti sebuah ledakan di mana semua perasaan tak dapat lagi ditampung dalam wadah hati? 

Kemudian semua bentuk emosi dalam wadah hati semacam saling bertempur, saling mendorong siapakah yang mesti ke luar. Karena suasana semakin kacau dan tak terkendali, salah satu emosi mesti mengalah. Jadi munculah rasa cinta. 

Atau perasaan yang muncul itu hanyalah sebuah wujud dari reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh kita. Katanya, tubuh kita memiliki sistem libik yang menggerakkan hormon dalam tubuh. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved