Rabu, 22 April 2026

Cerpen

Cerpen: Kerasnya Dompet Coklat

Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben." 

Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Felix Riondi Sugar *

POS-KUPANG.COM -  “Itu kan! Sudah kubilang pikir dulu. Sekarang kamu tahu akibatnya," kata Beny dengan nada rendah tanpa simpati sedikit pun.  
Pius hanya duduk terpaku. 

Tangannya gemetar memegang gelas kopi yang tak lagi ia minum. “Aku tidak menyangka akan sejauh ini, Ben." 

Kemarin pagi, polisi sudah datang ke kantor desa. Ada 4 orang dengan senjata lengkap. 

Mereka sudah memeriksa berkas-berkas bersama penyelidik yang lain. Dan sekarang aku sangat takut. Apalagi  sekretaris desa pun sudah dipanggil. 

Dia sudah bicara banyak tentang kasus ini. Kalimat itu seperti pisau yang menancap di kepala Pius. Ia terus menunduk, tak berani mengangkat wajah seperti biasanya.

Baca juga: Cerpen: Antara Cinta Terlarang 

Sejak pagi namanya terus dibicarakan di warung-warung kopi milik mbak Veronika. 

“Jangan langsung menghakimi dulu. Banyak juga yang sudah dia buat untuk desa kita,” ujar seorang warga, mencoba meredakan situasi. Bukan soal itu, sahut warga yang lain. Kalau benar dia makan uang desa, itu bukan kesalahan kecil. 

Seorang bapak tua menggeleng pelan sambil berkata "Baru setahun menjabat sudah begini!  Dulu kita pilih dia supaya desa ini lebih maju.: 

Percakapan makin tajam dan panas. Suara cangkir beradu dengan meja, bisik-bisik berubah jadi nada tinggi. Nama Pius disebut berulang-ulang, seperti sedang diadili tanpa ruang pembelaan sedikit pun. Rupanya warga sudah muak dan resah sekali.

Semua bermula dari utang yang tak lagi sanggup ia tutup. Pinjaman demi pinjaman ia ambil tanpa hitungan, terbawa euforia jabatan dan rasa ingin terlihat sukses. 

Bisnis kecil yang dulu ia banggakan sudah lama tutup dan bangkrut. Sejak itu cicilan bank menjeratnya tanpa maaf. Telepon penagih utang datang hampir setiap malam, berdering panjang seperti ancaman. 

Gajinya sebagai kepala desa tak pernah cukup ia pakai. Ia mulai sulit tidur malam. Bahkan dalam lelap pun, angka-angka utang itu tetap dan terus menghantuinya.

Di situasi yang terpuruk itu, Pius mengambil jalan tengah. Sempat ia berpikir untuk memanipulasi data warganya sendiri. Tiga nama penerima bantuan diubahnya segampang itu. 

Apalagi ketiga nama warganya itu adalah musuh bebuyutan lamanya yang dulu menjadi pesaingnya dalam pemilihan kepala desa. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved