Opini
Opini: Menagih Tanggung Jawab Bersama untuk NTT di Hari Pendidikan Nasional
Pemerintah harus memastikan kebijakan pendidikan benar-benar berpihak pada masyarakat miskin dan daerah tertinggal.
Oleh: Damasus Lodoaleng S.Pd.,M.Pd.,Gr
Staf Pengajar SMKN 2 Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai penghormatan terhadap gagasan besar Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan sebagai alat pembebasan manusia.
Namun, di tengah kemajuan teknologi global dan geliat pembangunan nasional, kita dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah pendidikan benar-benar telah menjadi jalan keluar dari ketertinggalan, atau justru menjadi cermin ketimpangan itu sendiri?
Secara global, kualitas pendidikan Indonesia masih berada dalam kategori menengah.
Berbagai asesmen internasional menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia belum kompetitif.
Baca juga: Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan?
Dalam konteks nasional, ketimpangan pendidikan antarwilayah masih sangat tajam.
Wilayah barat Indonesia relatif lebih maju, sementara kawasan timur, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT), masih tertinggal.
Di tingkat nasional, negara sebenarnya telah memberikan perhatian besar terhadap sektor pendidikan.
Anggaran pendidikan terus meningkat, bahkan mencapai lebih dari Rp700 triliun dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, besarnya anggaran tersebut tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hasil di lapangan.
Hal ini menunjukkan bahwa persoalan pendidikan bukan hanya soal dana, melainkan juga distribusi, tata kelola, dan keadilan akses yang harus dikelola secara baik, jujur, dan merata.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTT berada pada kisaran 62 - 63, jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai sekitar 72.
Kondisi ini menempatkan NTT di peringkat sekitar 33 dari 34 provinsi di Indonesia, atau hampir di posisi terbawah secara nasional.
Angka tersebut tidak sekadar statistik, tetapi mencerminkan kualitas hidup masyarakat, termasuk dalam bidang ekonomi dan pendidikan.
Jika ditinjau lebih dalam, indikator pendidikan di NTT memperlihatkan ketertinggalan yang nyata.
Damasus Lodolaleng
Hari Pendidikan Nasional
Hardiknas 2026
Opini Pos Kupang
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan? |
|
|---|
| Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum |
|
|---|
| Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas! |
|
|---|
| Opini: Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Damasus-Lodoaleng-SPdMPdGr.jpg)