Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Suara dari Balik Dinding

Rumah mungil dengan jendela yang tak pernah dibuka lebar, karena aku tak ingin dunia tahu betapa pekat luka yang tinggal di dalamnya. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN AI
ILUSTRASI 

Tangannya mendarat pertama kali di pipiku pada malam itu. Aku kaget, bukan karena sakitnya, tapi karena aku tak pernah membayangkan cinta bisa berubah menjadi tamparan.

Setelah itu, ia menangis. Memohon maaf. Bersumpah akan berubah. Dan seperti perempuan bodoh lainnya, aku percaya.

Anakku, Dinda, kini sudah berusia delapan tahun. Ia tumbuh dalam rumah yang sunyi, meski di dalamnya selalu ada suara bentakan, suara tubuh terhempas ke tembok, suara isak yang kupendam di bawah selimut. Dinda tak pernah bertanya banyak. 

Ia hanya menatapku dengan mata yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.

Aku masih ingat malam-malam ketika aku hanya bisa duduk menggigil di lantai dapur, mencoba menghapus darah dari sudut bibir, agar Dinda tidak melihat saat pagi datang.

Kadang darah itu berasal dari pecahan gelas yang sengaja Dewa lemparkan ke arahku.

Kadang dari ujung meja saat kepalaku dibenturkan. Tapi yang paling sering, dari gigitan kemarahan yang tak sempat kubalas.

Dewa tak hanya menghukum dengan tangan, tapi juga dengan sunyi. Ada masa-masa ketika ia tak menyentuhku berbulan-bulan. Bukan karena marah, tapi karena ia ingin aku merasa tidak diinginkan. 

Ia tidur di sofa, menolak bicara, menolak makan jika aku yang memasak, menatap ke arah lain bila aku lewat. Sunyi itu lebih menyakitkan dari teriakan.

Lalu ada malam-malam ketika ia menuntut haknya sebagai suami. Ia datang dengan bau alkohol, membanting pintu kamar, dan merenggut tubuhku seolah aku adalah property yang harus melayani tanpa keluh. 

Aku tidak bisa bilang tidak. Karena jika kutolak, dia akan merobek bajuku dan mengancam akan melakukannya di depan Dinda.

Pada titik itu, aku bukan lagi istri. Aku hanyalah bayangan perempuan yang ditinggal jiwanya. 

Kekerasan tak berhenti pada fisik. Ia menular ke pikiran. Dewa mencabut kartu ATM-ku, melarangku bekerja, melarangku mengangkat telepon dari adikku. Ia bilang aku tak perlu uang. 

“Aku sudah cukup memberi makan kalian,” katanya. Tapi tiap minggu, ia datang padaku dan minta uang, karena uang rokoknya habis. 

Jika tak ada, ia membanting kursi atau mengancam akan membakar semua baju Dinda.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved