Cerpen
Cerpen: Di Ujung Belis
Namanya adalah perjuangan, namun akhirnya hanyalah sebuah perpisahan yang dipaksakan oleh takdir.
Oleh: Boy Waro *
POS-KUPANG.COM - Lonceng gereja di lembah berdentang memecahkan sunyi di barisan bukit. Di pagi yang masih kaku dua insan mengingkarkan janji setia di sebuah gereja tua nan teduh.
“Saya Maria Sara menerima engkau Romanus Mbasa sebagai suami saya dalam untung maupun malang. Saya Romanus Mbasa menerima engkau Maria Sara sebagai istri saya dalam untung maupun malang.”
Apa yang dipersatukan oleh Allah tidak diceraikan oleh manusia. Di bawah langit yang perlahan meredup, kenangan itu terasa lebih tajam daripada sembilu.
Namanya adalah perjuangan, namun akhirnya hanyalah sebuah perpisahan yang dipaksakan oleh takdir.
Baca juga: Cerpen: Papan Luka
Semuanya bermula di seragam putih abu-abu. Rian dan Sarah adalah dua kutub yang disatukan oleh mimpi. Di saat teman-teman mereka sibuk dengan pesta, keduanya duduk di perpustakaan, berbagi satu buku dan satu ambisi.
“Nanti, kalau kita sudah jadi orang, aku akan datang ke rumahmu dengan kepala tegak,” bisik Rian suatu sore di bawah pohon flamboyan yang berbunga merah darah. “Aku akan menunggumu, Rian. Seberapa lama pun itu,” jawab Sarah tulus.
Mereka pun berjuang. Rian kuliah sambil bekerja serabutan, sementara Sarah tekun menyelesaikan studinya di kebidanan. Mereka sukses.
Sarah menjadi bidan yang dicintai masyarakat, dan Rian berhasil mendapatkan posisi mapan di kota.
Namun, saat Rian datang meminang, sebuah kenyataan pahit menghantam: **Belis**.
Harga diri adat yang dipatok keluarga Sarah begitu tinggi, tak tersentuh oleh tabungan yang Rian kumpulkan selama bertahun-tahun.
Rian tidak menyerah. Baginya, Sarah adalah muara. Ia memutuskan untuk merantau ke tanah seberang, meninggalkan Sarah yang menangis di dermaga. Di perantauan, Rian menjadi manusia mesin.
Ia bekerja siang malam, menahan lapar, dan tidur di kamar sempit hanya agar uangnya utuh untuk dikirim kembali ke kampung halaman.
Setiap malam, mereka hanya terhubung lewat suara di telepon yang sering terputus sinyal. “Sabar, Sayang. Sedikit lagi,” kata Rian setiap kali Sarah bertanya kapan ia pulang. Tiga tahun berlalu.
Rian pulang dengan tubuh yang lebih kurus, kulit yang legam terbakar matahari, namun dengan koper yang penuh dengan hasil keringatnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-batu-nisan.jpg)