Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opini: Mei, Ibu dan Luka yang Ditenun Menjadi Harapan

Dalam terang ini, Bulan Maria menjadi ruang di mana luka tidak disangkal, tetapi dirangkul dan perlahan diubah menjadi harapan.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ELAN ASNA
Elan Asna 

Oleh: Elan Asna
Apotekers, pegiat media sosial

POS-KUPANG.COM - Mei selalu datang dengan cara yang lembut seolah ia tidak ingin mengganggu dunia yang sudah terlalu bising. Bulan Mei hadir seperti seorang ibu yang tidak banyak bicara, tetapi mengandung makna  dalam. 

Di dalamnya, doa-doa dilantunkan perlahan, rosario dirangkai dengan sabar, dan manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk yang tak pernah benar-benar selesai.

Dalam tradisi Gereja Katolik, Mei bukan sekadar bulan biasa. Mei adalah Bulan Maria,  ruang spiritual di mana manusia belajar kembali tentang kesetiaan, kerendahan hati, dan harapan. 

Baca juga: Umat Paroki Kolhua Kupang Khusyuk Mengikuti Misa Pembukaan Bulan Maria

Praktik devosi ini telah mengakar sejak berabad-abad, berkembang kuat dalam tradisi Gereja sejak abad ke-18 melalui spiritualitas populer umat, dan terus hidup hingga hari ini sebagai bentuk iman yang sederhana namun mendalam.

Namun, pertanyaan yang patut diajukan adalah: di tengah dunia yang retak oleh konflik, ketimpangan, dan kecemasan global, apakah doa-doa itu masih memiliki daya? 

Ataukah ia sekadar gema sunyi yang indah, tetapi tak menjangkau realitas?

Di sinilah Mei menjadi penting bukan hanya sebagai ritus, tetapi sebagai refleksi.

Ibu sebagai Metafora Dunia yang Luka

Dalam filsafat etika, sosok ibu kerap melampaui makna biologis. Ia menjadi simbol tanggung jawab. 

Filsuf Emmanuel Levinas, dalam Totality and Infinity (1961), menegaskan bahwa relasi dengan “yang lain” selalu melahirkan tanggung jawab moral. 

Dalam terang ini, Maria dapat dibaca bukan sekadar figur religius, tetapi wajah dari kepedulian itu sendiri: menerima tanpa syarat, merawat tanpa pamrih, dan tetap setia bahkan dalam penderitaan.

Kitab suci menggambarkan Maria sebagai pribadi yang “menyimpan segala perkara dalam hatinya” (Luk 2:19). 

Ini bukan sikap pasif, melainkan refleksi mendalam sebuah cara memahami dunia tanpa tergesa menghakimi.

Dan dunia hari ini, tampaknya, sedang sangat membutuhkan cara itu. Kita hidup dalam zaman yang ditandai oleh konflik global berkepanjangan, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian ekonomi. 

Laporan World Bank (Januari 2025) mencatat bahwa perlambatan ekonomi global berdampak langsung pada negara berkembang melalui inflasi pangan dan energi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved