Opini
Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan?
Masalah pendidikan tidak hanya terletak pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada pengalaman nyata siswa di sekolah.
Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan penuh seremoni.
Upacara digelar, pidato disampaikan, dan berbagai slogan tentang pentingnya pendidikan kembali digaungkan.
Kita seolah diingatkan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pertanyaan yang tidak nyaman.
Apakah yang kita rayakan benar-benar kemajuan, atau justru kita sedang menutupi keprihatinan yang terus berulang?
Baca juga: Opini: Hari Pendidikan Nasional dan Rapor Merah Sumba
Pendidikan seharusnya menjadi ruang harapan. Ia menjadi tempat di mana masa depan dibentuk dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Tetapi realitas yang terjadi justru menunjukkan banyak persoalan yang belum terselesaikan.
Ketimpangan, kualitas yang belum merata, hingga keamanan yang dipertanyakan, menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan.
Dalam situasi seperti ini, Hari Pendidikan terasa lebih sebagai momen refleksi daripada perayaan.
Ketika Akses Menjadi Hak Istimewa, Bukan Hak Semua
Salah satu persoalan paling nyata dalam pendidikan Indonesia adalah kesenjangan kualitas dan fasilitas.
Di satu sisi, ada sekolah dengan fasilitas lengkap, teknologi memadai, dan akses informasi yang luas.
Namun di sisi lain, masih banyak sekolah yang kekurangan ruang kelas, buku, bahkan tenaga pengajar. Perbedaan ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara satu daerah dengan daerah lain.
Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kesempatan. Siswa yang belajar dalam keterbatasan harus berjuang lebih keras untuk mencapai hasil yang sama.
Mereka tidak hanya belajar materi pelajaran, tetapi juga harus menghadapi hambatan yang seharusnya tidak ada. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan ketidakadilan yang sistemik.
Gagasan pendidikan sebagai alat pembebasan pernah ditekankan oleh Ki Hajar Dewantara. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia, bukan membatasi.
Namun kemerdekaan itu sulit terwujud jika akses terhadap pendidikan masih timpang. Kebebasan belajar tidak akan bermakna jika tidak semua memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.
Goldy Ogur
Opini Pos Kupang
Hari Pendidikan Nasional
Hari Pendidikan Nasional 2 Mei
Mahasiswa IFTK Ledalero
| Opini - Keadilan Bagi Kaum Buruh Perspektif Ensiklik Rerum Novarum |
|
|---|
| Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT |
|
|---|
| Opini: Memutus Rantai Buruh Kasar- Pendidikan NTT Harus Naik Kelas! |
|
|---|
| Opini: Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran |
|
|---|
| Opini: Literasi Sampah, Kesadaran Peduli |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur-03.jpg)