Breaking News
Kamis, 30 April 2026

Opini

Opini: Drama BBM Sabu Raijua,  Antrean Panjang Solusi Pendek

Foto-foto di media, sementara di lapangan bensin botolan terus berjaya. Rakyat sudah muak dengan pertunjukan sidak yang tidak diikuti tindakan nyata.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI JOHN MOZES HW NERU
Pdt. John Mozes Hendrik Wadu Neru 

Dalam konteks Sabu, ini berarti membangun cadangan stok, memperbanyak frekuensi kapal, sekaligus menata pengawasan berbasis komunitas.

Dari Kritik Menjadi Jalan Keluar: Harapan di Tengah Antrean

Krisis BBM di Sabu Raijua menyingkap kelemahan distribusi, pengawasan yang longgardan politik solusi instan yang selalu berulang. 

Namun kritik saja tidak cukup. Dari situ harus lahir jalan keluar yang nyata: distribusi digital yang transparan, satgas permanen berbasis komunitas, cadangan strategis agar stok tidak habis tiap kali kapal minyak terlambat, diversifikasi energi lokal, hingga penegakan keadilan sosial energi bagi petani, nelayandan sopir angkutan umum.

Jika kita memakai kacamata Sustainable Supply Chain, maka persoalan BBM tidak lagi sekadar urusan logistik ekonomi, melainkan ekosistem sosial yang menuntut keberlanjutan dan keadilan. 

Dengan pendekatan ini, antrean panjang bisa diputus dengan solusi panjang. 

Sabu Raijua bahkan bisa menjadi contoh bahwa di pulau kecil sekalipun, negara hadir bukan hanya lewat kapal minyak, melainkan lewat keberanian menata ulang sistem distribusi energi dengan prinsip transparansi, keadilandan keberlanjutan. 

Dari kritik lahir jalan keluar dan dari antrean lahir harapan baru bagi rakyat.

Penutup: Mengubah Skenario

Antrean panjang, solusi pendek—itulah drama BBM di Sabu Raijua yang terus diputar ulang. Tetapi kita punya pilihan: terus jadi penonton atau mulai mengubah skenario. 

Sustainable Supply Chain bukan jargon akademis; ia adalah kacamata baru yang menuntut kita memperlakukan energi sebagai hak rakyat, bukan ladang mafia.

Pertanyaan tinggal satu: beranikah kita keluar dari logika “solusi pendek” dan masuk ke logika keberlanjutan? 

Jika jawabannya ya, maka drama BBM Sabu Raijua bisa berakhir - dan diganti dengan babak baru: energi yang adil, berkelanjutandan benar-benar untuk rakyat. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved