Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini - Melihat Permasalahan Air dalam Perspektif Filsafat Thales

Filsuf Yunani kuno, Thales, mengemukakan bahwa air adalah prinsip dasar (arkhē) dari segala sesuatu.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fr. Joaquin De Santos Fahik 

Opini - Melihat Permasalahan Air dalam Perspektif Filsafat Thales
Oleh: Fr. Joaquin De Santos Fahik
(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

POS-KUPANG.COM - Kita semua tentu angat akrab dengan air. Ya, air yang kita minum, yang digunakan untuk mandi, yang digunakan untuk menyeduh kopi, yang digunakan untuk masak, dan beragam hal lainnya.

Tapi pernahkah kita berpikir, sebenarnya apakah air itu? Dalam kimia ia merupakan gabungan dua atom hydrogen dan satu atom oksigen. Itu kata kimia, tetapi menurut kita sendiri, apakah air itu? 

Kata ilmu alam air merupakan salah satu elemen penting bagi kehidupan. Kendati demikian pentingnya air sering kali terlupakan oleh banyak orang.

Setiap makhluk hidup, terlebih manusia, tidak dapat lepas dari kebutuhan akan air. Dari kebutuhan biologis paling dasar seperti minum, hingga aktivitas kompleks seperti produksi pangan dan industri.

Tanpa air mungkin semua yang hidup mati.  Jika kita menelisik lebih dalam, hubungan manusia dengan air tidak hanya bersifat eksternal, tetapi juga internal.

Tubuh manusia sendiri sebagian besar tersusun atas air dengan persentase sekitar 60 hingga 70 persen dari total komposisi tubuh.

Darah, sel, jaringan, bahkan proses metabolisme bergantung pada keberadaan air sebagai medium utama. Dalam perspektif ini, manusia bukan hanya makhluk yang membutuhkan air, tetapi juga “makhluk air” itu sendiri.

Lalu dalam filsafat kesadaran akan pentingnya air sebenarnya telah lama hadir dalam sejarah pemikiran manusia. Filsuf Yunani kuno, Thales, mengemukakan bahwa air adalah prinsip dasar (arkhē) dari segala sesuatu.

Bagi Thales, seluruh realitas berasal dari air dan kembali kepadanya. Pandangan ini mungkin tampak sederhana dalam terang ilmu pengetahuan modern, namun secara filosofis mengandung intuisi yang mendalam.

Air dalam hal ini merupakan simbol kesatuan dan asal-usul kehidupan. Bahkan di dalam kisah penciptaan menurut tradisi Kristen, sebelum segala sesuatu dijadikan air sudah terlebih dahulu ada.

Sehingga dalam Kitab Suci tertulis, “Bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita menyelimuti samudera semesta, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

Itulah mengapa air menjadi metafora bagi keberlangsungan dan keterhubungan seluruh realitas sebab ia sudah ada sejak semula.

Dalam pandangan Thales, air bukanlah sekadar materi cair yang mengisi ruang-ruang kosong di bumi, melainkan jiwa yang menggerakkan seluruh realitas.

Ironisnya, saat ini kita menghadapi kenyataan pahit di mana elemen yang dianggap penting dan mendasar oleh Thales tersebut kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan, terutama di wilayah-wilayah yang secara geografis rentan seperti Nusa Tenggara Timur. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved