Opini
Opini: Koperasi Merah Putih untuk NTT- Solusi atau Ilusi
Lebih parah lagi adalah kenyataan bahwa program-program pusat sering kali mem-bypass provinsi dan kabupaten.
Oleh: Marianus Kleden
Dosen Fisip Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Wacana sekaligus tekat pemerintah untuk membuka Koperasi Merah Putih di setiap desa dan kelurahan, pada hari Selasa 28 April 2026, didiskusikan secara terbuka dan jujur di Aula Hendrikus kampus Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Diskusi publik yang diprakarsai oleh Program Studi Ilmu Pemerintahan ini menghadirkan tiga pembicara dari ranah berbeda, yaitu Linus Lusi, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi NTT yang mewakili suara pemerintah.
Vinsen Bureni, Direktur LSM Bengkel APPeK, yang merefleksikan suara masyarakat dan Bung Eman Kosat, dosen muda yang kritis dari Prodi Ilmu Pemerintahan yang menghadirkan suara dunia akademik. Diskusi yang hangat ini dimoderatori dosen muda yang lincah John C. Sado.
Baca juga: Opini: Ketika Gembala Tidak Lagi Membalut Luka
Terlihat ada tiga warna suara yang kontras. Warna suara optimis ditampilkan oleh Linus Lusi, warna pesimis tercermin dari presentasi Eman Kosat, dan warna suara realis dengan muatan kuat skeptisisme bisa ditangkap dari pemaparan Vinsen Bureni.
Linus Lusi memulai pemaparannya dengan sebuah pernyataan yang menyentak: negara merupakan satu-satunya institusi yang mempunyai hak memaksa.
Artinya, walaupun wacana pendirian Koperasi Merah Putih ini mendapat respons negatif dari masyarakat, negara dapat memaksakan rencananya yang dia anggap memberdayakan untuk dieksekusi.
Sifat memaksa ini didukung regulasi dan menjadi bagian dari program strategis nasional. Konkretnya, di seluruh NTT sudah didirikan dan akan didirikan 3.422 Koperasi Merah Putih.
Mungkin angka yang tepat adalah 3.442 sesuai dengan jumlah desa dan kelurahan yang ada di NTT.
Setiap koperasi akan dimodali Rp 3 miliar, di mana 2,5 M dialokasikan untuk pembangunan gedung, penyediaan fasilitas dan rekrutmen karyawan, sementara 500 juta dialokasikan untuk pengadaan barang.
Di koperasi ini akan ada galeri di mana produk-produk pertanian, peternakan dan perikanan dipamerkan dan dijualbelikan.
Dengan demikian proses produksi, distribusi dan konsumsi hasil pertanian diharapkan berjalan lancar.
Galeri ini akan bersinergi dengan Program MBG karena semua bahan mentah untuk MBG tersedia di galeri Koperasi Merah Putih.
Vinsen Bureni, dengan belajar dari pengalaman sebelumnya, memperlihatkan skeptisisme terhadap koperasi Merah Putih.
Kata dia, berdasarkan data lapangan, program PNPM dari zaman SBY tidak keruan juntrungnya, dan program Anggur Merah dari Gubernur Frans Lebu Raya juga seperti hilang tak tentu rimbanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dekan-fisip-unwira-kupang-drs-marianus.jpg)