Opini
Opini: Menemukan Kembali Lumbung Pakan di Nusa Tenggara Timur
Kelebihan utama Azolla adalah daya tumbuhnya yang cepat dan kemampuannya beradaptasi di wilayah tropis.
Oleh: Asrul
Dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Sejarah mencatat bahwa sebelum era 2000-an, Nusa Tenggara Timur ( NTT) adalah primadona lumbung daging sapi nasional.
Namun, seiring berjalannya waktu, kejayaan itu perlahan meredup. Salah satu penyebab utamanya bukanlah kurangnya jumlah peternak, melainkan ketersediaan pakan yang kian menipis akibat menyusutnya padang penggembalaan.
Dalam dunia peternakan, pakan adalah jantung sekaligus beban terbesar. Sekitar 50 hingga 70 persen biaya operasional peternakan habis hanya untuk urusan perut ternak.
Baca juga: Opini: Koperasi Merah Putih untuk NTT- Solusi atau Ilusi
Ironisnya, pakan yang umum digunakan masyarakat, seperti jerami padi, ternyata memiliki keterbatasan nutrisi.
Meski diberikan dalam jumlah melimpah, jerami rendah akan protein dan tinggi serat kasar, sehingga pertumbuhan bobot tubuh ternak tidaklah signifikan.
Potensi Tersembunyi: Azolla microphylla
Di tengah tantangan ini, hasil penelitian Asrul & Novian (2020) terkait “Potensi Tanaman Azolla sebagai Pakan Ternak di Nusa Tenggara Timur (NTT)” menemukan sebuah potensi pakan alternatif yang selama ini mungkin dianggap sekadar tanaman air biasa: Azolla microphylla.
Tanaman paku air berukuran mini ini bukan sekadar penghias kolam. Berdasarkan analisis proksimat yang lakukan, Azolla microphylla yang didomestikasi di Kabupaten Kupang memiliki kandungan protein kasar sebesar 16,81 persen.
Jika kita bandingkan dengan pakan konvensional, angka ini jauh mengungguli protein pada jerami padi (4,9 persen), jagung kuning (6,8-7,2 persen), bahkan dedak padi (10,93 persen).
Artinya, secara kualitas nutrisi, Azolla menawarkan pasokan protein kasar yang lebih baik untuk pembentukan biomassa, tulang, serta enzim dan hormon pada ternak.
Tantangan Lingkungan dan Adaptasi
Menariknya, meskipun kandungan protein Azolla di NTT masih lebih rendah dibandingkan literatur global yang bisa mencapai 25-35 persen, hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat.
Analisis terhadap media air di lokasi penelitian menunjukkan rendahnya kadar nitrogen (0,004 ppm) dan fosfat (0,135 ppm).
Secara alamiah, Azolla mampu mengikat nitrogen dari udara dengan bantuan simbiosis Anabaena.
Namun, kurangnya unsur fosfat di perairan menjadi faktor pembatas yang menghambat penyerapan nitrogen secara maksimal.
Ini adalah temuan penting bagi para peternak dan praktisi, dalam membudidayakan Azolla di NTT yang membutuhkan intervensi nutrisi yang tepat untuk mencapai potensi proteinnya.
Harapan Pakan Mandiri
| Opini: Koperasi Merah Putih untuk NTT- Solusi atau Ilusi |
|
|---|
| Opini: Ketika Sapu Lama Mengaku Lebih Bersih dari Rumah yang Belum Pernah Ia Bersihkan |
|
|---|
| Opini: Integritas Auditor BPK dalam Sistem Pengawasan Keuangan Negara |
|
|---|
| Opini: NTT- Adat, Ibu Nifas dan Nyawa yang Dipertaruhkan |
|
|---|
| Opini: Hari Pendidikan Nasional dan Rapor Merah Sumba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Asrul.jpg)