Opini
Opini: Ketika Sapu Lama Mengaku Lebih Bersih dari Rumah yang Belum Pernah Ia Bersihkan
Karena pada akhirnya, integritas kepemimpinan tidak diuji saat seseorang naik, tetapi saat ia turun.
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT di Sabu Raijua
johnmhwaduneru@gmail.com
POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa hari terakhir, media sosial ramai dengan lagu humor “ Lu Kenal Veronika Ko” yang viral dan diperbincangkan di berbagai ruang percakapan publik.
Dalam cerita sederhana yang mengundang tawa itu, Mama Maria digambarkan sebagai sosok yang menetapkan standar bagi calon menantunya.
Ia tidak sekadar mencari laki-laki yang baik atau rajin, tetapi seseorang yang bisa berbahasa Inggris.
Syarat itu terdengar ringan, bahkan wajar, tetapi sesungguhnya menyimpan bayangan tentang kualitas, kapasitas, bahkan kelas sosial tertentu.
Baca juga: Opini: Integritas Auditor BPK dalam Sistem Pengawasan Keuangan Negara
Di situlah cerita mulai bekerja. Dengan penuh percaya diri, sang pelamar tidak menunjukkan kemampuan berbahasa yang nyata, melainkan hanya mengucapkan satu kalimat yang terasa asing sekaligus akrab di telinga kita, “Bluetooth device has connected successfully.”
Orang tertawa karena segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Standar yang tinggi dijawab dengan sesuatu yang dangkal.
Ekspektasi tentang kemampuan bertemu dengan hafalan suara mesin. Ia terdengar benar, tetapi kosong.
Ia terdengar pintar, tetapi tidak benar-benar memahami. Ia bukan berbicara, ia hanya memutar ulang bunyi yang pernah ia dengar. Dan di situlah letak keganjilannya, karena yang kita anggap kemampuan sering kali hanyalah kebiasaan mengulang tanpa pernah benar-benar mengerti.
Namun jika kita berhenti pada tawa itu, kita mungkin kehilangan sesuatu yang lebih dalam. Karena sesungguhnya, pola yang sama tidak hanya hidup dalam lagu tersebut.
Ia juga hadir dalam cara kita memahami kapasitas, otoritas dan bahkan kepemimpinan.
Hari ini, tidak sedikit hal yang terdengar seperti kritik, padahal hanya pengulangan. Tidak sedikit suara yang tampak seperti pengalaman, tetapi tidak lahir dari refleksi yang jujur.
Banyak orang berbicara seolah-olah memahami, padahal hanya mengulang apa yang pernah didengar tanpa pernah mempertanyakan maknanya.
Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan suara, tetapi tidak selalu penuh dengan kedalaman. Dan dalam kebisingan itu, yang paling berbahaya bukanlah kesalahan, melainkan keyakinan yang tidak pernah diuji.
Kekuasaan yang Tidak Pernah Selesai
Di titik itulah kita mulai melihat sesuatu yang lebih mengganggu. Kekuasaan di negeri ini tidak pernah benar-benar selesai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru-06.jpg)