Senin, 20 April 2026

Opini

Opini: Dunia yang Kehilangan Tatanan

Perubahan sejati berawal dari penataan kembali cinta: apa yang dianggap bernilai, dan bagaimana menempatkannya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI HANDRI EDIKTUS
Handri Ediktus 

Kosmologi Agustinus dan Krisis Indonesia Hari Ini

Oleh: Handri Ediktus, CMF
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Indonesia hari ini bergerak dalam sebuah ironi: akses informasi semakin terbuka, tetapi kebenaran justru semakin sulit ditemukan. 

Penyebaran hoaks dan disinformasi terus meningkat, terutama dalam momentum politik dan isu sensitif di ruang publik. 

Media sosial yang semestinya menjadi ruang pertukaran gagasan kerap berubah menjadi arena konflik, di mana opini lebih dominan daripada fakta. 

Pada saat yang sama, realitas sosial diwarnai oleh krisis moral yang berulang. 

Baca juga: Opini: SiLPA NTT 2025- Ketika Sisa Anggaran Menjadi Cermin Kegagalan Serapan

Kasus kekerasan seksual masih menjadi ancaman serius, termasuk di Nusa Tenggara Timur, terutama terhadap perempuan dan anak. Praktik korupsi pun terus menggerogoti kepercayaan publik. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang kita hadapi bukanlah insidental, melainkan struktural.

Namun, membaca semua ini sekadar sebagai “meningkatnya kejahatan” tampak terlalu dangkal. Cara pandang ini berhenti pada gejala tanpa menyentuh akar persoalan. 

Pertanyaannya: apakah kita hidup dalam masyarakat yang semakin jahat, atau justru sedang kehilangan tatanan yang menopang kehidupan bersama? 

Di titik inilah refleksi Augustinus dari Hippo menjadi relevan. Melalui kosmologinya, Agustinus melihat realitas sebagai suatu ordo tatanan yang memberi arah dan makna. 

Dalam perspektif ini, krisis sosial dapat dibaca sebagai runtuhnya tatanan itu sendiri.

Tulisan ini mengkaji krisis Indonesia sebagai gejala hilangnya ordo, dengan menunjukkan bahwa kejahatan lebih tepat dipahami sebagai privatio boni ketiadaan kebaikan serta merefleksikan bagaimana tatanan itu dapat dipulihkan.

Krisis yang Tampak: Gejala Tanpa Akar

Bila mencermati ruang publik Indonesia hari ini, tampak bahwa kita sedang berhadapan dengan krisis yang berlapis. 

Penyebaran hoaks telah menjadi bagian dari keseharian komunikasi digital. Informasi yang tidak terverifikasi tidak hanya mudah dipercaya, tetapi juga lebih cepat menyebar dibandingkan dengan kebenaran. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved