Opini
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek
Foto-foto di media, sementara di lapangan bensin botolan terus berjaya. Rakyat sudah muak dengan pertunjukan sidak yang tidak diikuti tindakan nyata.
Oleh: John Mozes Hendrik Wadu Neru
Pendeta GMIT yang berkarya di Kabupaten Sabu Raijua - Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Opini ini ditulis setelah melakukan riset sederhana terhadap pemberitaan dan percakapan publik sepanjang 2025: baik di media nasional, media lokal NTT, maupun percakapan warga di media sosial tentang persoalan penyaluran BBM di Sabu Raijua.
Dari data yang dihimpun, terlihat pola berulang: setiap kali ada keterlambatan kapal atau gangguan distribusi, stok BBM di SPBU cepat habis, antrean mengular dan bensin botolan bermunculan dengan harga selangit.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa masalah kelangkaan BBM di Sabu bukan sekadar soal kuota atau cuaca, melainkan juga soal tata kelola distribusi dan pengawasan yang lemah.
Antrean yang Mengular, Botol yang Membengkak
Bayangkan sebuah pulau yang setiap kali kapal minyak terlambat sehari, warganya langsung antre berjam-jam di SPBU, hanya untuk pulang dengan tangki masih kosong.
Sabu Raijua, kabupaten kecil di selatan NTT, kini jadi panggung drama BBM: antrean kendaraan yang mengular, SPBU yang sering tutup dan bensin botolan yang berjaya di pinggir jalan.
Baca juga: Dinkes Sabu Raijua Catat 461 Kasus DBD dari Januari hingga Juli 2025
Ironisnya, ini bukan cerita baru. Sejak bertahun-tahun lalu, Sabu Raijua hidup dalam ritme kelangkaan. Bedanya, bulan Juli–Agustus 2025 krisis mencapai puncaknya: stok BBM benar-benar habis.
Pertamina terpaksa mengalihkan kapal minyak yang semula menuju Rote, demi menyelamatkan Sabu yang kosong total.
Sementara itu, di jalanan, botol berisi Pertalite dijual Rp25.000–30.000 per botol 1,5 liter.
Harga resmi Rp10 ribu per liter, tapi di sini subsidi justru terasa mahal.
Apakah kuota kurang? Tidak juga. Kuota Pertalite untuk Sabu di tahun 2025 adalah 3.442 KL, Solar 1.526 KL. Sampai Juli, baru separuh yang terealisasi.
Jadi stok di atas kertas tersedia. Tapi di lapangan, Pertalite lebih mudah ditemukan dalam botol mineral ketimbang di nozzle SPBU.
Inilah ironi yang telanjang: kuota cukup, tapi rakyat tetap tidak kebagian.
Komedi Gelap di Depan SPBU
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/John-Mozes-Hendrik-Wadu-Neru.jpg)