Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Ruang Ketiga

Kesalahan kedua: tidak memahami bahwa ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang di luar karakter mereka.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN META AI
ILUSTRASI 

"Beta tau ini son bisa uba apa-apa, tapi—"

"Lili."

"Iya?"

"kenapa lu bikin be begini?"

Tanya yang sudah Margaret simpan selama tiga bulan. Pertanyaan yang jawabannya mungkin akan mengubah segalanya. Atau justru tidak mengubah apa-apa.

"Beta... beta takut kehilangan kerja ini. Bapa mama sakit, Kaka Retha. Beta butuh uang berobat dong. Dan waktu Pak Zakarias bilang pasti ada yang kena, beta... beta panik."

Kebenaran. Atau setidaknya sebagian kebenaran.

"Jadi lu korban beta?"

"Beta son ada maksud... maksud beta, beta pikir kaka lebih kuat. Kaka selalu lebih kuat dari beta."

Lebih kuat.

Margaret tertawa pahit. Kekuatan yang dipersepsikan orang lain ternyata menjadi kutukan. Ketika kamu terlihat kuat, orang merasa boleh menyakitimu karena yakin kamu akan baik-baik saja.

"Kaka Retha, be minta maaf"

"Lili."

"Iya?"

"Beta... beta musti tutup telepon."

"Kaka Retha, tunggu—"

Klik.

****

Marcus Aurelius menulis: "Anda memiliki kekuatan atas pikiran Anda—bukan peristiwa di luar." 

Margaret menutup buku itu. Sudah berapa banyak buku filsafat yang dia baca dalam tiga bulan terakhir? 

Stoicism. Buddhism. Existentialism. Semua mencari jawaban untuk pertanyaan yang sama: bagaimana cara tidak menderita? 

Tapi mungkin pertanyaannya salah. Mungkin pertanyaan yang benar adalah: bagaimana cara menderita dengan bermartabat?

Margaret bangkit dari sofa. Kupang masih berkilau di luar jendela. Masih ribuan lampu. Masih jutaan drama. Tapi ada sesuatu yang berubah dalam cara dia melihatnya. 

Dia tidak bisa mengubah apa yang sudah Lili lakukan. Tidak bisa mengubah persepsi orang-orang di kantor. 

Tidak bisa mengubah faktanya dia kehilangan teman terdekat dan reputasi profesional sekaligus.

Tapi dia bisa memilih bagaimana meresponsnya.

"Terimalah hal-hal yang tidak dapat kamu ubah, ubah hal-hal yang dapat kamu ubah..."

Besok dia akan masuk kantor seperti biasa. Akan menghadapi bisikan-bisikan dengan kepala tegak. Akan bekerja dengan profesional meski ada yang meragukan integritasnya. 

Karena yang penting bukan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Yang penting adalah apa yang dia ketahui tentang dirinya.

Enam bulan kemudian.

Margaret duduk di kantin yang sama. Meja yang sama. Tapi sendirian. Lili sudah resign bulan lalu. 

Entah karena tidak tahan dengan rasa bersalah atau dapat pekerjaan yang lebih baik.

Margaret tidak menanyakan kabar. Tidak karena dia masih marah. Tapi karena dia sudah melepaskan. 

Menerima bahwa ada hubungan yang tidak bisa diselamatkan. Ada kepercayaan yang sekali rusak tidak bisa dikembalikan utuh dan itu okay.

"Kaka Retha?"

Suara Zakarias. Margaret mendongak.

"Bisa datang ka ruangan beta sebentar?"

Hati Margaret berdetak lebih cepat. Reflex lama. Tapi kemudian dia ingat: apapun yang akan dikatakan Pak Zakarias, dia sudah siap. 

Karena dia sudah belajar untuk tidak menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal  di luar kontrolnya.

Di ruangan Pak Zakarias, ada surat di atas meja.

"Selamat, Kaka Retha. Promosi lu jadi supervisor cabang su disetujui kantor pusat."

Margaret terdiam. Selama enam bulan terakhir, dia sudah belajar untuk tidak mengharapkan apa-apa. Dan tiba-tiba...

"Beta tau enam bulan ini berat untuk kaka. Tapi cara kaka handle situasi ini... profesional. Dewasa. Itu yang kami cari untuk posisi supervisor."

Ironi hidup. Yang dia pikir akan menghancurkan karirnya justru membuatnya dipromosikan. Tapi Margaret tidak merasa girang berlebihan. 

Juga tidak merasa ini adalah validasi bahwa dia benar selama ini. Ini hanya... hidup yang berjalan seperti biasanya. 

Ada yang naik, ada yang turun. Yang penting adalah bagaimana kita berdansa dengan perubahan itu.

Malam itu Margaret kembali duduk di teras kosannya. Kupang masih berkilau. Tapi kali ini dia tidak melihatnya sebagai jutaan drama terpisah. 

Dia melihatnya sebagai satu simfoni besar. Ada yang bermain forte, ada yang bermain piano. 

Ada yang harmonis, ada yang sumbang. Tapi semuanya adalah bagian dari komposisi yang sama. Handphone bergetar. Pesan dari nomor yang tidak disimpan.

"Kaka Retha, beta deng kaka dapat promosi. Selamat. Beta senang kaka baik-baik sa. - L"

Margaret membaca pesan itu berkali-kali. Kemudian mengetik balasan:
"Makasih. Semoga lu juga baik-baik sa."

Send.

Kemudian dia block nomor itu. Bukan karena dendam. Tapi karena ada chapter yang memang harus ditutup untuk bisa membuka chapter yang baru. 

Marcus Aurelius benar: "Yang terbaik dari kehidupan adalah ketika kita hidup selaras dengan alam, alam kita sendiri dan alam semesta yang lebih besar."

Margaret menutup mata. Mendengarkan suara Kupang di malam hari. Lalu lintas. Klakson. Orang-orang yang pulang larut. 

Hidup yang terus berjalan dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, dia merasa... damai. Bukan karena semuanya sudah selesai. 

Tapi karena dia sudah belajar untuk menari dengan ketidakpastian.

"Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi padamu, tapi kamu bisa mengendalikan bagaimana kamu bereaksi terhadapnya. Dan di dalam reaksi itulah terletak kebebasanmu." Epictetus. (*) 

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved