Cerpen
Cerpen: Ruang Ketiga
Kesalahan kedua: tidak memahami bahwa ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang di luar karakter mereka.
"Hal-hal yang tidak dalam kendali kita: tubuh, properti, reputasi..."
Reputasi. Marcus Aurelius benar. Reputasi bukan milik kita. Reputasi adalah persepsi orang lain. Dan persepsi... seperti awan. Berubah-ubah. Datang dan pergi. Tapi mengapa masih sakit?
Margaret ingat malam itu. Malam ketika Lili menelepon, suaranya bergetar. "Kaka Retha, beta sonde tau mo bagaimana. Pak Zakarias tanya soal laporan itu. Beta... beta..."
Dan Retha, dengan bodohnya, berkata: "Bilang sa itu kesalahan kita dua. Kita hadapi sama-sama."
Kesalahan pertama: mempercayai orang lain akan bertindak seperti dirinya.
Kesalahan kedua: tidak memahami bahwa ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang di luar karakter mereka.
Atau... mungkin itu memang karakter Lili yang sesungguhnya?
"Terimalah hal-hal yang tidak dapat kamu ubah..."
Seneca benar. Tapi Seneca tidak pernah bekerja di bank swasta di tahun 2025. Seneca tidak pernah merasakan bisikan-bisikan di pantri.
Tatapan-tatapan miring di koridor. Senyuman palsu yang lebih menyakitkan daripada teriakan langsung.
"Kaka Retha, lu baik-baik sa?"
Suara Andi, teman dari divisi kredit. Matanya itu khawatir. Atau hanya ingin tahu gosip terbaru?
Margaret tidak tahu lagi bagaimana membedakan keduanya.
"Baik."
Jawaban otomatis. Seperti mesin ATM yang mengeluarkan uang ketika PIN benar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-ruangan.jpg)