Senin, 4 Mei 2026

Cerpen

Cerpen: Ruang Ketiga

Kesalahan kedua: tidak memahami bahwa ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang di luar karakter mereka.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-FOTO BUATAN META AI
ILUSTRASI 

"Soal kemarin tu... beta tau kaka bukan tipe yang..."

"Andi."

"Iya?"

"Lu percaya beta sonda?"

Jeda. Terlalu lama untuk ukuran kepercayaan yang asli.

"Tentu beta percaya."

Bohong yang sopan. Margaret tahu itu bohong yang sopan. Tapi dia berterima kasih untuk kebohongan itu. Setidaknya Andi berusaha baik.

"Kamu adalah aktor dalam drama yang dipilih oleh penulis..." Epictetus lagi. Selalu Epictetus. Drama. Ya, hidup ini memang drama. Tapi siapa penulisnya? Dan bagaimana jika aktris utamanya lelah berakting?

Malam itu Margaret duduk di teras balkon kosannya. Kupang berkilau di bawah jutaan lampu. Jutaan orang. Jutaan drama kecil yang masing-masing merasa paling penting. Handphone bergetar. Lili. 

Nama itu muncul di layar. Setelah tiga bulan tidak ada kontak. Angkat atau tidak? Jari Margaret bergetar di atas tombol hijau. Antara mengangkat dan tidak. Antara memaafkan dan membenci. Dia angkat.

"Kaka Retha?"

Suara Lili serak. Seperti orang yang baru bangun tidur. Atau orang yang baru selesai menangis.

"Iya."

"Beta... beta minta maaf."

Kata-kata yang sudah Margaret tunggu selama tiga bulan. Tapi mengapa terasa hambar?

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved