Cerpen
Cerpen: Ruang Ketiga
Kesalahan kedua: tidak memahami bahwa ketakutan bisa membuat orang melakukan hal-hal yang di luar karakter mereka.
Oleh: Rismayani Achmad
Seorang guru yang mencintai sastra
POS-KUPANG.COM - Margaret menatap layar komputer. Angka-angka berjejer seperti tentara yang sedang berbaris menuju medan perang. Tapi siapa musuhnya?
"Lu su dengar belom?"
Bisikan itu. Lagi.
"Margaret yang kemarin tu..."
Potongan. Selalu potongan. Seperti cermin yang pecah. Setiap serpihan memantulkan wajahnya yang berbeda-beda. Ada yang menuduh. Ada yang meragukan. Ada yang... mencela.
Tiga bulan sejak Lili, temannya, sahabatnya, saudara pilihannya melakukan itu.
Baca juga: Cerpen: Suara dari Balik Dinding
Apa yang Epictetus sebut sebagai hal yang tidak dapat dikontrol. Tapi mengapa masih sakit?
"Bukan apa yang terjadi padamu, tetapi bagaimana kamu bereaksi..."
Margaret menggeleng. Filsafat itu mudah di atas kertas. Di dalam kehidupan nyata, pengkhianatan itu seperti pisau yang terus berputar di dalam dada.
Lili. Nama itu dulunya manis di lidah. Sekarang pahit seperti kopi yang kelamaan diseduh.
Mereka dulu satu meja di kantin. Satu mimpi tentang promosi. Satu rahasia tentang kesalahan kecil dalam laporan triwulan yang Margaret pikir akan mereka selesaikan bersama-sama. Tapi Lili memilih jalan yang lain.
"Bu Margaret telah melakukan kelalaian dalam..."
Suara Pak Zakarias di ruang rapat itu masih terngiang. Dan mata Lili yang menunduk.
Tidak berani menatap. Tapi juga tidak membela. Diam adalah komplotan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-ruangan.jpg)