Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Opini: Merantau Bukan Sekadar Meninggalkan Kampung

Merantau adalah keberanian meninggalkan kenyamanan rumah untuk menghadapi dunia baru dan asing. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLIKARPUS NUGA
Polikarpus Nuga 

Namun pertanyaan penting yang perlu dipikirkan bersama adalah: bagaimana masa depan kampung jika generasi mudanya terus pergi?

Di sinilah pemikiran Aristotle menjadi relevan. Aristotle menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk sosial yang hanya dapat mencapai kehidupan baik jika hidup bersama dalam komunitas. 

Kebahagiaan atau eudaimonia tidak hanya diperoleh melalui keberhasilan pribadi, tetapi juga melalui keterlibatan dalam kehidupan bersama demi kebaikan umum.

Pemikiran itu mengingatkan bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari komunitas asalnya. Kesuksesan pribadi memang penting, tetapi kehidupan bersama juga membutuhkan perhatian. 

Kampung bukan sekadar tempat lahir, melainkan ruang di mana identitas, budaya, dan nilai kemanusiaan dibentuk. Ketika partisipasi generasi muda semakin berkurang, kampung perlahan kehilangan energi sosial dan kekuatan intelektualnya.

Karena itu, fenomena merantau perlu disikapi secara bijaksana oleh pemerintah. 

Merantau bukan sesuatu yang harus dilarang karena banyak anak muda memang membutuhkan ruang untuk berkembang. 

Namun pemerintah perlu menciptakan kondisi agar generasi muda juga memiliki alasan untuk tetap tinggal dan membangun daerahnya sendiri.

Salah satu langkah penting ialah meningkatkan kualitas pendidikan di daerah, bukan hanya melalui pembangunan fisik sekolah, tetapi juga peningkatan kualitas guru, akses teknologi, dan pendidikan keterampilan. 

Anak muda perlu dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan di luar daerah, tetapi juga agar mampu menciptakan peluang di kampungnya sendiri.

Selain itu, pemerintah perlu membuka lebih banyak lapangan kerja berbasis potensi lokal seperti pertanian modern, peternakan, perikanan, UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis masyarakat. 

NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang besar, tetapi belum sepenuhnya dikelola untuk memberdayakan generasi mudanya.

Pemerintah desa juga perlu memberi ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak muda dalam pembangunan masyarakat. Pemuda harus dilibatkan dalam kegiatan sosial, musyawarah desa, komunitas kreatif, dan pelestarian budaya lokal. 

Sebab kampung tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga kehidupan sosial yang aktif dan sehat.

Di sisi lain, perlindungan terhadap para perantau dan pekerja migran juga harus diperkuat. Banyak anak muda NTT pergi merantau tanpa keterampilan dan perlindungan yang memadai sehingga rentan mengalami eksploitasi. 

Oleh sebab itu, pendampingan, pelatihan kerja, dan edukasi mengenai migrasi aman menjadi sangat penting.

Pemerintah dan masyarakat juga harus berhenti memandang para perantau semata-mata sebagai sumber ekonomi keluarga. Mereka bukan hanya pengirim uang dari rantau, tetapi manusia yang memiliki martabat, perasaan, dan hak untuk dihargai. 

Perlindungan hukum, ruang sosial yang sehat, komunitas pendampingan, dan perhatian terhadap kesehatan mental para perantau perlu menjadi bagian penting dari kebijakan sosial.

Ironisnya, banyak orang baru benar-benar memahami arti kampung halaman ketika mereka sudah jauh meninggalkannya. 

Di tengah hiruk-pikuk kota besar, mereka mulai merindukan suara ibu di dapur, bahasa daerah, jalan kampung yang sunyi, dan kebersamaan sederhana yang dulu terasa biasa saja. 

Sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada kerinduan untuk kembali pada tanah yang membesarkannya.

Karena itu, merantau tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk melupakan kampung sendiri. 

Justru pengalaman hidup di luar daerah perlu menjadi kesempatan untuk belajar, berkembang, dan suatu hari memberi arti bagi tanah kelahiran. 

Tidak semua orang harus kembali secara fisik, tetapi setidaknya tetap menjaga kepedulian terhadap kampung halaman: membantu pendidikan anak-anak desa, mendukung kegiatan sosial, menjaga budaya lokal, atau menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Merantau memang penting untuk masa depan pribadi, tetapi kampung halaman juga membutuhkan perhatian dan kehadiran anak mudanya. 

Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang mengejar keberhasilan untuk dirinya sendiri, melainkan juga makhluk yang bertumbuh bersama komunitasnya. Dan mungkin benar, sejauh apa pun langkah seseorang pergi merantau, hatinya tidak pernah benar-benar meninggalkan kampung halaman. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved