Sabtu, 16 Mei 2026

Opini

Opini: Merantau Bukan Sekadar Meninggalkan Kampung

Merantau adalah keberanian meninggalkan kenyamanan rumah untuk menghadapi dunia baru dan asing. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLIKARPUS NUGA
Polikarpus Nuga 

Oleh: Polikarpus Nuga
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Di banyak wilayah Nusa Tenggara Timur, merantau sudah menjadi bagian dari jalan hidup anak muda. 

Hampir setiap kampung memiliki cerita tentang seseorang yang pergi meninggalkan rumah demi pendidikan, pekerjaan, atau harapan akan masa depan yang lebih baik. 

Ada yang memilih merantau di dalam negeri maupun di luar negeri. Kepergian mereka itu sering dianggap biasa, padahal di balik semuanya itu mereka menyembunyikan perjuangan yang akan mereka hadapi dan tentunya tidak mudah.

Baca juga: Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Merantau bukan sekadar berpindah tempat dari suatu tempat ke tempat yang lain. 

Merantau adalah keberanian meninggalkan kenyamanan rumah untuk menghadapi dunia baru dan asing. 

Banyak anak muda NTT pergi dengan kemampuan dan bekal yang terbatas, tetapi membawa harapan yang begitu besar dari orang tua serta mimpi untuk memperbaiki kehidupan keluarga mereka. 

Di terminal, pelabuhan, dan bandara, sering kali ada tangis yang disembunyikan, menjadi tanda bahwa perjalanan itu tidak pernah benar-benar mudah.

Fenomena merantau tidak muncul tanpa sebab. Salah satu dorongan terbesar bagi generasi muda NTT untuk pergi adalah pendidikan. 

Di banyak keluarga, pendidikan dipercaya sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan keterbatasan hidup. 

Namun kenyataannya, akses pendidikan yang belum merata, fasilitas belajar yang minim, kurangnya tenaga pelajar, serta sempitnya peluang kerja setelah lulus membuat banyak anak muda merasa harus meninggalkan kampung untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.

Tidak sedikit orang tua yang sejak awal berharap anak-anak mereka dapat sukses di tempat perantauan. 

Akibatnya, pendidikan tidak lagi dipahami hanya sebagai proses mencari ilmu, tetapi juga sebagai jalan untuk keluar kampung halaman. 

Karena semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar kemungkinan ia memilih merantau karena merasa tidak berguna dan tidak berkembang di kampung halamannya sendiri.

Data juga memperlihatkan bahwa angka migrasi masyarakat NTT terus mengalami peningkatan. 

Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT mencatat ribuan pekerja migran asal NTT diberangkatkan ke berbagai negara sepanjang tahun 2025. 

Mayoritas para migran berasal dari kelompok usia produkrif. Remitansi yang dikirim para pekerja migran bahkan mencapai puluhan miliar rupiah dan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga di kampung.

Di satu sisi, merantau memang membantu banyak keluarga bertahan hidup. Penghasilan dari rantau digunakan untuk membiayai sekolah adik, membangun rumah, membantu orang tua, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Namun di sisi lain, ada dampak sosial yang perlahan mulai terasa: kampung kehilangan banyak generasi mudanya.

Kini banyak desa di NTT lebih banyak dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Sementara itu, para pemuda yang seharusnya menjadi tenaga kreatif dalam kegiatan sosial, budaya, dan pembangunan justru berada jauh di perantauan. 

Akibatnya, semangat gotong royong mulai berkurang, organisasi kepemudaan kehilangan aktivitas, dan beberapa tradisi perlahan kehilangan penerus. 

Kampung terasa semakin sunyi, bukan karena tidak ada kehidupan, tetapi karena banyak anak mudanya sedang berjuang jauh dari rumah.

Perbedaan kehidupan sosial antara kampung dan rantau juga sangat terasa. Di kampung, kehidupan masyarakat umumnya lebih dekat dan penuh rasa kekeluargaan. 

Hampir semua orang saling mengenal dan hidup dalam hubungan sosial yang erat. 

Ketika ada pesta adat, kedukaan, panen, atau pembangunan rumah, masyarakat terlibat bersama dalam semangat kebersamaan. Hidup mungkin sederhana, tetapi terasa hangat secara sosial.

Sebaliknya, kehidupan di rantau sering kali lebih individualistis dan penuh persaingan. 

Anak-anak muda dituntut hidup mandiri, mengatur kebutuhan sendiri, dan bertahan tanpa kehadiran keluarga dekat. 

Di kota besar, hubungan sosial cenderung lebih formal dan tidak seerat kehidupan di kampung. Banyak perantau yang merasa kesepian meskipun hidup di tengah keramaian. 

Mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya baru, bahasa baru, ritme hidup yang cepat, bahkan terkadang menghadapi diskriminasi karena berasal dari daerah tertentu.

Di kampung, seseorang dikenal karena keluarga, adat, dan hubungan sosialnya. Namun di rantau, seseorang lebih sering dinilai dari pekerjaan, pendidikan, dan keberhasilannya secara ekonomi. 

Perubahan itu membuat banyak anak muda mengalami tekanan batin. Mereka harus menjaga harapan keluarga di rumah sekaligus bertahan menghadapi kerasnya kehidupan di luar daerah. 

Tidak sedikit yang akhirnya merasa hidup di antara dua dunia: raganya berada di rantau, tetapi hatinya tetap tinggal di kampung halaman.

Karena itu, para perantau seharusnya tidak dipandang sebelah mata. Banyak orang mengira mereka pergi hanya untuk mencari uang atau mengejar kenyamanan hidup. 

Padahal di balik kehidupan rantau terdapat perjuangan mental, emosional, dan fisik yang jarang terlihat. 

Banyak perantau harus menahan rindu kepada keluarga, menghadapi tekanan hidup sendirian, dan bekerja dalam kondisi yang berat demi membantu orang-orang di kampung.

Ironisnya, masyarakat sering hanya melihat hasil yang dibawa pulang tanpa memahami pengorbanan di baliknya. 

Ketika seorang perantau berhasil, ia dipuji karena dianggap mampu mengangkat ekonomi keluarga. 

Tetapi ketika belum berhasil, ia mudah dianggap gagal atau lupa kampung halaman. Padahal tidak semua kehidupan di rantau berjalan mulus. 

Banyak anak muda sebenarnya sedang berjuang dalam kesulitan, tetapi memilih diam agar keluarga di rumah tidak ikut khawatir.

Karena itu, diperlukan nurani sosial dalam memandang kehidupan para perantau. 

Mereka bukan hanya membutuhkan tuntutan untuk sukses, tetapi juga dukungan moral, empati, dan penghargaan atas perjuangan mereka sebagai manusia. 

Keluarga dan masyarakat perlu memahami bahwa kehidupan di rantau tidak selalu seindah yang dibayangkan. Para perantau juga bisa merasa lelah, gagal, kesepian, bahkan kehilangan arah hidup.

Keadaan ini sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan anak muda yang memilih pergi. 

Mereka merantau bukan karena tidak mencintai kampung halaman, melainkan karena keadaan hidup memaksa mereka mencari peluang di tempat lain. 

Minimnya lapangan kerja, keterbatasan akses ekonomi, dan sempitnya ruang pengembangan diri membuat rantau terlihat sebagai jalan paling mungkin untuk bertahan hidup sekaligus membantu keluarga.

Namun pertanyaan penting yang perlu dipikirkan bersama adalah: bagaimana masa depan kampung jika generasi mudanya terus pergi?

Di sinilah pemikiran Aristotle menjadi relevan. Aristotle menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk sosial yang hanya dapat mencapai kehidupan baik jika hidup bersama dalam komunitas. 

Kebahagiaan atau eudaimonia tidak hanya diperoleh melalui keberhasilan pribadi, tetapi juga melalui keterlibatan dalam kehidupan bersama demi kebaikan umum.

Pemikiran itu mengingatkan bahwa manusia tidak dapat sepenuhnya melepaskan diri dari komunitas asalnya. Kesuksesan pribadi memang penting, tetapi kehidupan bersama juga membutuhkan perhatian. 

Kampung bukan sekadar tempat lahir, melainkan ruang di mana identitas, budaya, dan nilai kemanusiaan dibentuk. Ketika partisipasi generasi muda semakin berkurang, kampung perlahan kehilangan energi sosial dan kekuatan intelektualnya.

Karena itu, fenomena merantau perlu disikapi secara bijaksana oleh pemerintah. 

Merantau bukan sesuatu yang harus dilarang karena banyak anak muda memang membutuhkan ruang untuk berkembang. 

Namun pemerintah perlu menciptakan kondisi agar generasi muda juga memiliki alasan untuk tetap tinggal dan membangun daerahnya sendiri.

Salah satu langkah penting ialah meningkatkan kualitas pendidikan di daerah, bukan hanya melalui pembangunan fisik sekolah, tetapi juga peningkatan kualitas guru, akses teknologi, dan pendidikan keterampilan. 

Anak muda perlu dipersiapkan bukan hanya untuk mencari pekerjaan di luar daerah, tetapi juga agar mampu menciptakan peluang di kampungnya sendiri.

Selain itu, pemerintah perlu membuka lebih banyak lapangan kerja berbasis potensi lokal seperti pertanian modern, peternakan, perikanan, UMKM, ekonomi kreatif, dan pariwisata berbasis masyarakat. 

NTT memiliki kekayaan alam dan budaya yang besar, tetapi belum sepenuhnya dikelola untuk memberdayakan generasi mudanya.

Pemerintah desa juga perlu memberi ruang partisipasi yang lebih luas bagi anak muda dalam pembangunan masyarakat. Pemuda harus dilibatkan dalam kegiatan sosial, musyawarah desa, komunitas kreatif, dan pelestarian budaya lokal. 

Sebab kampung tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga kehidupan sosial yang aktif dan sehat.

Di sisi lain, perlindungan terhadap para perantau dan pekerja migran juga harus diperkuat. Banyak anak muda NTT pergi merantau tanpa keterampilan dan perlindungan yang memadai sehingga rentan mengalami eksploitasi. 

Oleh sebab itu, pendampingan, pelatihan kerja, dan edukasi mengenai migrasi aman menjadi sangat penting.

Pemerintah dan masyarakat juga harus berhenti memandang para perantau semata-mata sebagai sumber ekonomi keluarga. Mereka bukan hanya pengirim uang dari rantau, tetapi manusia yang memiliki martabat, perasaan, dan hak untuk dihargai. 

Perlindungan hukum, ruang sosial yang sehat, komunitas pendampingan, dan perhatian terhadap kesehatan mental para perantau perlu menjadi bagian penting dari kebijakan sosial.

Ironisnya, banyak orang baru benar-benar memahami arti kampung halaman ketika mereka sudah jauh meninggalkannya. 

Di tengah hiruk-pikuk kota besar, mereka mulai merindukan suara ibu di dapur, bahasa daerah, jalan kampung yang sunyi, dan kebersamaan sederhana yang dulu terasa biasa saja. 

Sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada kerinduan untuk kembali pada tanah yang membesarkannya.

Karena itu, merantau tidak seharusnya dipahami sebagai bentuk melupakan kampung sendiri. 

Justru pengalaman hidup di luar daerah perlu menjadi kesempatan untuk belajar, berkembang, dan suatu hari memberi arti bagi tanah kelahiran. 

Tidak semua orang harus kembali secara fisik, tetapi setidaknya tetap menjaga kepedulian terhadap kampung halaman: membantu pendidikan anak-anak desa, mendukung kegiatan sosial, menjaga budaya lokal, atau menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Merantau memang penting untuk masa depan pribadi, tetapi kampung halaman juga membutuhkan perhatian dan kehadiran anak mudanya. 

Sebab pada akhirnya, manusia bukan hanya makhluk yang mengejar keberhasilan untuk dirinya sendiri, melainkan juga makhluk yang bertumbuh bersama komunitasnya. Dan mungkin benar, sejauh apa pun langkah seseorang pergi merantau, hatinya tidak pernah benar-benar meninggalkan kampung halaman. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved