Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: Ketika Anak Meminta Roti, Jangan Beri Ular- Menata Ulang Tanggung Jawab Dalam MBG 

Kritik yang matang tidak sibuk mencari kambing hitam individual, melainkan membongkar titik-titik lemah dalam rantai kebijakan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YORIM YOSAVAT KAUSE
Yorim Yosavat Kause 

Membaca: Injil Matius 7:9-10

Oleh: Yorim Yosavat Kause
Pendeta GMIT di Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Program gizi kehilangan legitimasi moralnya pada saat anak-anak justru tumbang karena makanan yang dibagikan atas nama kepedulian negara. 

Sejumlah panduan WHO tentang keamanan pangan di sekolah dan lingkungan pangan sehat bagi anak menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi dasar utama dalam setiap program makan di lingkungan pendidikan.

Kalimat ini mungkin terdengar keras, tetapi justru di situlah letak kejujuran yang perlu dihadirkan dalam membaca kasus keracunan makanan di sekolah. 

Baca juga: Opini: Mengapa Kamu Berdiri Melihat ke Langit?

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang lahir dari niat baik, yakni memperkuat asupan gizi peserta didik dan menopang masa depan mereka. 

Namun, niat baik tidak pernah cukup untuk membenarkan pelaksanaan yang ceroboh. 

Dalam program yang menyangkut tubuh dan keselamatan manusia, ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada luasnya jangkauan, besarnya anggaran, atau cepatnya realisasi, melainkan pada seberapa aman manfaat itu benar-benar sampai ke tangan anak-anak (WHO, 2022; WHO, 2026).

Karena itu, ketika muncul dugaan keracunan massal, persoalannya tidak boleh dikecilkan sebagai insiden teknis biasa. Ini adalah alarm keras bahwa sistem perlindungan pangan di lingkungan pendidikan masih belum kokoh. 

Anak-anak datang ke sekolah untuk belajar, bertumbuh, dan menata masa depan, bukan untuk menanggung risiko dari makanan yang seharusnya menopang kesehatan mereka. 

Di titik inilah negara, sekolah, dan semua pelaksana kebijakan harus berani menerima kritik: jika keselamatan belum menjadi fondasi utama, maka seluruh keberhasilan administratif sesungguhnya berdiri di atas dasar yang rapuh. 

Penegasan ini sejalan dengan panduan WHO yang menempatkan perlindungan kesehatan anak sebagai inti dari penyediaan pangan di sekolah.

Matius 7:9-10 memberi kedalaman moral yang sangat kuat untuk membaca situasi ini: "Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?" (Alkitab, Mat. 7:9-10). 

Bagian bacaan  ini bukan hanya berbicara tentang kasih orang tua kepada anak, tetapi juga tentang watak tanggung jawab. 

Ketika anak-anak menerima makanan dari program negara, mereka sesungguhnya sedang "meminta roti": gizi, perhatian, perlindungan, dan masa depan yang lebih baik. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved