Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: Spirit Perdamaian Kontekstual dari Rumah Adat Koke Bale

Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga   simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Gamalusi Andreas Soge 

Membaca Lamaholot melalui Johan Galtung, Jürgen Habermas, dan Stephen B. Bevans

Oleh: Gamalusi Andreas Soge *

POS-KUPANG.COM - Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik identitas, polarisasi politik, kekerasan simbolik, dan krisis ekologis, masyarakat adat sebenarnya menyimpan cadangan etika perdamaian yang sering luput dibaca secara serius. 

Salah satu warisan itu hidup dalam struktur budaya masyarakat Lamaholot melalui rumah adat Koke Bale di Patisirawalang, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. 

Rumah adat ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang kosmologis, ruang dialog, dan ruang rekonsiliasi sosial yang memuat spirit perdamaian kontekstual. 

Dalam banyak studi antropologi, rumah adat Nusantara dipahami sebagai representasi relasi sosial dan sistem nilai suatu komunitas (Geertz, 1973; Waterson, 1990).

Baca juga: Tarian Hedung dari Lamaholot Iringi Peresmian Nama Jalan Frans Lebu Raya di Kupang

Dalam perspektif ini, Koke Bale dapat dibaca bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi sebagai teks sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal membangun harmoni, mengelola konflik, dan merawat kehidupan bersama. 

Pembacaan tersebut menjadi semakin kaya ketika didekati melalui teori perdamaian Johan Galtung, teori tindakan komunikatif Jürgen Habermas, dan teologi kontekstual-terjemahan Stephen B. Bevans. 

Pendekatan interdisipliner semacam ini penting karena perdamaian modern tidak hanya dipahami sebagai isu politik, tetapi juga persoalan budaya, komunikasi, dan spiritualitas (Galtung, 1969; Habermas, 1984; Bevans, 2002).

Koke Bale sebagai Kosmologi Perdamaian

Dalam tradisi Lamaholot, rumah adat bukan sekadar tempat tinggal. Tetapi juga   simbol hubungan antara manusia, leluhur, alam, dan Yang Ilahi. 

Struktur Koke Bale memuat prinsip kolektivitas: ruang tengah sebagai tempat musyawarah, tiang utama sebagai simbol kesatuan genealogis, serta orientasi ruang yang memperlihatkan relasi harmonis antara manusia dan kosmos. 

Dalam antropologi simbolik, struktur ruang tradisional sering dipahami sebagai representasi keteraturan kosmis masyarakat adat (Eliade, 1959; Waterson, 1990).

Pada titik ini, Koke Bale bekerja sebagai “arsitektur sosial”. Ia membentuk cara masyarakat berpikir tentang relasi, kuasa, dan penyelesaian konflik. 

Tidak mengherankan jika dalam banyak komunitas adat di Flores Timur, penyelesaian persoalan sosial sering dilakukan di rumah adat melalui ritus, dialog, dan konsensus bersama. 

Tradisi deliberatif lokal semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki mekanisme resolusi konflik yang berbasis budaya dan kohesi sosial (Avruch, 1998; Lederach, 1997).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved