Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Anak Sekecil Itu, sebuah Cerminan

Dari Ocha keberanian menjadi cerminan bagi kita. Kapan terakhir kali kita berani mengoreksi atasan yang salah hitung anggaran? 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DARVIS TARUNG
Darvis Tarung 

Oleh: Darvis Tarung
Tinggal di Scolastikat Hati Maria Claretian Kupang, Nusa Tenggara Timur.

“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu. Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu…..”

POS-KUPANG.COM - Itu adalah sepenggal lirik lagu dari Iwan Fals, yang dapat menggambarkan sebuah sikap keberanian dari seorang siswi dari SMAN 1 Pontianak, yang saat ini sementara viral. 

Josepha Alexandra Roxa Potifera, akrab disapa Ocha, nama siswi itu yang tampil berani di panggung Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat. 

Ia bersuara, tatkala jawaban yang benar dinilai salah, jawaban yang sama diberi poin minus. Ia menjawab benar tetapi juri memotong lima poin timnya. 

Baca juga: Opini: Anak Anak Itu Hanya Meminta Didengar

Sementara regu lain yang mengulang jawaban yang sama mendapat tambahan sepuluh poin. Atas kesalahan itu, Ocha itu tidak membawa orasi panjang membela diri. 

Ia tidak membawa massa. Ia hanya membawa satu hal yang semakin langka di ruang publik kita yaitu keberanian untuk berkata benar. 

Keberaniannya menjadi cermin bagi kita, bahwasannya untuk yang benar tidak perlu diam. 

Di titik itu, banyak anak akan diam. Karena sistem sudah mengajari mereka bahwa melawan orang dewasa itu tidak sopan. 

Apalagi saat yang dewasa mulai merendahkan mereka-artikulasi yang tidak jelas, mungkin hanya perasaan adik saja, putusan ada ditangan juri. Bahwa benar atau salah tergantung siapa yang duduk di kursi juri. 

Berhadapan dengan dewasa, mereka diam, tak bersuara sekalipun benar. Tapi Ocha tidak diam. Ia lantang berkata bahwa itu yang benar harus disuarakan.

Dari Ocha keberanian menjadi cerminan bagi kita. Kapan terakhir kali kita berani mengoreksi atasan yang salah hitung anggaran? 

Kapan terakhir kali kita berani mengatakan ini tidak adil di rapat yang semua orang memilih diam? 

Kita yang sudah bertahun-tahun sekolah, kuliah, kerja, justru lebih sering memilih aman. Kita punya alasan. 

Kita punya tanggung jawab. Kita punya keluarga yang harus dinafkahi. Dan semua alasan itu sering kali menjadi topeng untuk menutupi rasa takut. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved