Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini: Merantau Bukan Sekadar Meninggalkan Kampung

Merantau adalah keberanian meninggalkan kenyamanan rumah untuk menghadapi dunia baru dan asing. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI POLIKARPUS NUGA
Polikarpus Nuga 

Balai Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT mencatat ribuan pekerja migran asal NTT diberangkatkan ke berbagai negara sepanjang tahun 2025. 

Mayoritas para migran berasal dari kelompok usia produkrif. Remitansi yang dikirim para pekerja migran bahkan mencapai puluhan miliar rupiah dan menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga di kampung.

Di satu sisi, merantau memang membantu banyak keluarga bertahan hidup. Penghasilan dari rantau digunakan untuk membiayai sekolah adik, membangun rumah, membantu orang tua, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Namun di sisi lain, ada dampak sosial yang perlahan mulai terasa: kampung kehilangan banyak generasi mudanya.

Kini banyak desa di NTT lebih banyak dihuni oleh orang tua dan anak-anak. Sementara itu, para pemuda yang seharusnya menjadi tenaga kreatif dalam kegiatan sosial, budaya, dan pembangunan justru berada jauh di perantauan. 

Akibatnya, semangat gotong royong mulai berkurang, organisasi kepemudaan kehilangan aktivitas, dan beberapa tradisi perlahan kehilangan penerus. 

Kampung terasa semakin sunyi, bukan karena tidak ada kehidupan, tetapi karena banyak anak mudanya sedang berjuang jauh dari rumah.

Perbedaan kehidupan sosial antara kampung dan rantau juga sangat terasa. Di kampung, kehidupan masyarakat umumnya lebih dekat dan penuh rasa kekeluargaan. 

Hampir semua orang saling mengenal dan hidup dalam hubungan sosial yang erat. 

Ketika ada pesta adat, kedukaan, panen, atau pembangunan rumah, masyarakat terlibat bersama dalam semangat kebersamaan. Hidup mungkin sederhana, tetapi terasa hangat secara sosial.

Sebaliknya, kehidupan di rantau sering kali lebih individualistis dan penuh persaingan. 

Anak-anak muda dituntut hidup mandiri, mengatur kebutuhan sendiri, dan bertahan tanpa kehadiran keluarga dekat. 

Di kota besar, hubungan sosial cenderung lebih formal dan tidak seerat kehidupan di kampung. Banyak perantau yang merasa kesepian meskipun hidup di tengah keramaian. 

Mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya baru, bahasa baru, ritme hidup yang cepat, bahkan terkadang menghadapi diskriminasi karena berasal dari daerah tertentu.

Di kampung, seseorang dikenal karena keluarga, adat, dan hubungan sosialnya. Namun di rantau, seseorang lebih sering dinilai dari pekerjaan, pendidikan, dan keberhasilannya secara ekonomi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved