Seperti Apa Kesiapan NTT Sambut PON XXII 2026
Pemerintah jangan terlalu lama diam. Kalau memang ada Rp 200 miliar, cairkan sudah ke cabang olahraga untuk bersiap.
Ringkasan Berita:- Dana cadangan sudah ada Rp 200 juta, tapi sepertinya belum ada gebrakan- Target 37 medali emas bombastis atau realistis, masih butuh kajian- Kondisi NTT beda dengan NTB yang terlihat sudah sangat siap
TAK sampai dua tahun lagi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII akan dilaksanakan di Provinsi NTT, NTB dan DKI Jakarta sebagai penyangga. Masih adem. Belum terdengar gebyar yang menghentak. Yang menggelorakan semangat masyarakat NTT menyambut pesta olahraga terbesar di Indonesia ini.
“Provinsi NTB sudah lama bergerak. Mereka sangat siap. Bagaimana dengan NTT? Apa kita serius menyambut event yang tidak semua provinsi berkesempatan menjadi tuan rumah ini?”
Itu pernyataan sebagian orang. Tapi, siapa bilang NTT tidak bergerak? Lihat saja Pemprov NTT sudah menyiapkan dana cadangan sebesar Rp 200 miliar. Dana itu akan dicairkan sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan. Masih gelondongan. Akan dibagi untuk berbagai kegiatan yang berhubungan dengan PON XXII 2028.
Ada beberapa gebrakan yang sudah dilakukan. Sebut saja Dispora NTT yang menyiapkan atlet lewat sentra binaannya, yakni PPLD, PPLP dan PPLM. Bahkan, SKO NTT yang ada juga sudah mulai menyiapkan atlet.
Di lihat dari kesiapan atlet di NTT, terlihat cabang-cabang super prioritas dan prioritas yang sudah siap bersaing. Sebut saja kempo, pencaksilat, cricket, tinju,wushu dan lainnya. Sementara cabang lain seperti sepakbola, bolavoli dan olahraga permainan lain, belum terlihat.
Kita tentu tidak berharap, nanti mereka akan diikutkan sebagai peserta PON hanya untuk memenuhi kuota. PON adalah puncak prestasi atlet Indonesia. Kalau ada cabang olahraga yang ingin diakomodir hanya untuk berpartisipasi maka harus dipikirkan lagi.
Tidak sedikit dana yang dibutuhkan untuk menjadi tuan rumah. Menyiapkan atlet saja, paling tidak membutuhkan miliar rupiah. Ini belum termasuk sarana dan prasarana. NTT akan menjadi tuan rumah saat pembukaan. Apakah kita sudah miliki stadion yang memenuhi syarat? Apakah kita sudah memiliki GOR yang sanggup menampung ribuan penonton?
Tidak lama lagi. Kita belum terlihat bergerak. Belum terlihat baliho atau banner yang dipasang di lokasi-lokasi strategis. Padahal, hal ini sangat penting. Ketika kita terlihat siap, sponsor akan datang dengan sendiri.
Sponsor memang penting. Kita tidak bisa bergerak sendiri. Alokasi Rp 200 milar mungkin hanya habis untuk membangun stadion utama. Bagaimana dengan yang lain? Harus ada pihak ketiga yang ikut terlibat. Terlibatnya pihak ketiga ini tidak serta merta, tapi melalui proses.
Kita patut memberikan apresiasi kepada cricket, hoky, kempo dan pencaksilat yang sudah bergerak. Atletnya diikutkan di berbagai kejuaraan. Peralatan latihan dilengkapi. Cricket bahkan sudah membangun lapangan pertandingan, kerja sama dengan UKAW Kupang.
Pelaku olahraga di NTT tentu ingat saat Kalimantan Timur menjadi tuan rumah PON 2008. Agar bisa mencapai target prestasi, setelah PON Sumut 2004, Pemprov Kaltim dan KONI Kaltim bergerak. Atlet-atlet terbaik dari seluruh Indonesia termasuk dari NTT direkrut. Dan itu sudah dilakukan empat tahun sebelum PON Kaltim digelar.
Bagaimana dengan NTT? Kita terlalu bereuforia ingin menjadi tuan rumah. Kita lupa bahwa ada sukses yang mesti kita raih saat menjadi tuan rumah. Sebut saja sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi.
Apakah atlet-atlet NTT bisa berprestasi? Seharusnya bisa kalau sejak sekarang dipersiapkan dengan benar. Target 37 medali emas, terlalu bombastis. Omong enak, tapi belum tentu tercapai.
Kita memang harus optimis. Tapi setelah optimis jangan diam. Harus ada gerakan. Daerah lain sudah menyiapkan atlet. Mereka punya para juara yang ada di pelatnas dan sentra-sentra pembinaan nasional.
NTT memang ada, tapi hanya terbatas di cabang olahraga tertentu. Tidak semua cabang olahraga bisa meraih medali sesuai target yang sudah ditetapkan. Dan, kalau dihitung dengan jujur, medali emas yang nanti mereka raih, belum tentu mencapai sepuluh keping.
Pesimisme ini bukan karena kita tidak mampu. Harusnya ini menjadi pemicu bagi kita untuk bersiap. Pemerintah jangan terlalu lama diam. Kalau memang ada Rp 200 miliar, cairkan sudah ke cabang olahraga untuk bersiap. Kita harus bisa. Kita pasti bisa dan kita pasti juara. *
Baca berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS
| Zulhas Sebut Ahmad Yohan Pemimpin Brilian, Yakin PAN Kuasai Peta Politik NTT |
|
|---|
| Jalan Sore Jadi Gaya Hidup Sehat Warga di Kota Waingapu |
|
|---|
| Dugaan Praktik TPPO di Le Dupar Night Club Entertainment and Karoke di Labuan Bajo Mulai Terkuak |
|
|---|
| Simak Cara Membersihkan Nama di SLIK OJK Agar Pengajuan Pinjaman KUR 2026 Disetujui |
|
|---|
| Bisa Lewat HP, Ini Cara Mudah Ajukan KUR BRI 2026 Online Lengkap Dengan Syarat dan Tabel Angsuran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/JUmpa-Pers-KONI-NTT.jpg)