Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan?

Masalah pendidikan tidak hanya terletak pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada pengalaman nyata siswa di sekolah. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Hal ini menciptakan rasa tidak aman bagi siswa, yang seharusnya merasa nyaman dalam proses belajar.

Tokoh seperti Maria Montessori menekankan bahwa lingkungan belajar harus mendukung perkembangan anak secara utuh. 

Lingkungan yang aman dan penuh penghargaan menjadi syarat utama bagi tumbuhnya potensi anak.

Ketika sekolah tidak lagi menjadi ruang yang aman, maka pendidikan kehilangan esensinya. 

Siswa tidak hanya gagal belajar secara akademik, tetapi juga mengalami gangguan dalam perkembangan emosional dan sosial. 

Jika mutu belajar rendah dan lingkungan tidak aman, maka pendidikan tidak lagi menjadi ruang pembentukan manusia seutuhnya. Dalam kondisi seperti ini, keprihatinan bukan lagi pilihan, melainkan kenyataan.

Jika Kita Masih Peduli

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. 

Ketimpangan, kesejahteraan guru, inkonsistensi kurikulum, hingga masalah mutu dan keamanan, semuanya menjadi tantangan yang nyata.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari seremoni, dan mulai melihat kenyataan dengan jujur. 

Bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya baik-baik saja. Dan bahwa masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas yang masih penuh ketidakpastian.

Jika Hari Pendidikan hanya menjadi perayaan tanpa perbaikan, maka yang kita rayakan bukanlah kemajuan, melainkan keprihatinan yang terus diwariskan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved