Opini
Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT
Hardiknas, 2 Mei 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional .
Opini - Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta dari Akar Kearifan Lokal NTT
Oleh: Fr. Alvarez Fernandez
Mahasiswa Filsafat UNWIRA
Tinggal di Seminari Tinggi St. Micael Penfui - Kupang
POS-KUPANG.COM - Hardiknas, 2 Mei 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.”
Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebuah seruan moral dan arah kebijakan: bahwa pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan keterlibatan aktif pemerintah, pendidik, keluarga, dan masyarakat luas.
Logo Hardiknas 2026 yang didominasi warna biru mencerminkan optimisme, profesionalisme, dan semangat partisipasi aktif seluruh elemen bangsa.
Lebih jauh, semangat ini selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama dalam menghadapi tantangan global.
Pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia. Ia tidak hanya mentransfer
pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, nilai, dan kebijaksanaan hidup.
Dalam konteks Nusa Tenggara Timur (NTT), pendidikan bahkan memiliki dimensi yang lebih dalam: ia tumbuh dari budaya, adat, dan relasi sosial yang kuat dalam masyarakat.
Namun, realitas pendidikan di NTT hingga Maret 2026 masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Angka partisipasi sekolah pada jenjang dasar relatif stabil, tetapi mengalami penurunan di tingkat menengah.
Kasus putus sekolah masih terjadi, terutama di wilayah pedalaman dan kepulauan, dipengaruhi oleh faktor ekonomi, akses geografis, dan keterbatasan sarana pendidikan.
Distribusi tenaga pendidik juga belum merata. Sekolah-sekolah di daerah terpencil masih kekurangan guru, sementara akses terhadap teknologi pendidikan belum menjangkau seluruh wilayah secara optimal.
Kesenjangan digital menjadi tantangan nyata di tengah tuntutan pendidikan berbasis teknologi. Meski demikian, di balik keterbatasan tersebut, terdapat kekuatan besar yang sering luput dari perhatian: kearifan lokal masyarakat NTT.
Nilai gotong royong, solidaritas keluarga, musyawarah adat, serta penghormatan terhadap alam dan
leluhur merupakan fondasi pendidikan yang telah hidup lama sebelum sistem sekolah formal berkembang.
Dalam perspektif filsafat pendidikan, realitas ini dapat dibaca melalui beberapa pendekatan.
Pendekatan humanisme menekankan bahwa pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya.
Nilai-nilai seperti saling menghormati, tanggung jawab sosial, dan solidaritas yang hidup dalam budaya NTT merupakan wujud nyata pendidikan humanistik. Pendekatan rekonstruksionisme sosial melihat pendidikan sebagai alat perubahan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Fr-Alvares-Fernandez-ok.jpg)