Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan?

Masalah pendidikan tidak hanya terletak pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada pengalaman nyata siswa di sekolah. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional dengan penuh seremoni. 

Upacara digelar, pidato disampaikan, dan berbagai slogan tentang pentingnya pendidikan kembali digaungkan. 

Kita seolah diingatkan bahwa pendidikan adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Namun di balik kemeriahan itu, tersimpan pertanyaan yang tidak nyaman. 

Apakah yang kita rayakan benar-benar kemajuan, atau justru kita sedang menutupi keprihatinan yang terus berulang?

Baca juga: Opini: Hari Pendidikan Nasional dan Rapor Merah Sumba

Pendidikan seharusnya menjadi ruang harapan. Ia menjadi tempat di mana masa depan dibentuk dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Tetapi realitas yang terjadi justru menunjukkan banyak persoalan yang belum terselesaikan. 

Ketimpangan, kualitas yang belum merata, hingga keamanan yang dipertanyakan, menjadi bayang-bayang yang sulit diabaikan. 

Dalam situasi seperti ini, Hari Pendidikan terasa lebih sebagai momen refleksi daripada perayaan.

Ketika Akses Menjadi Hak Istimewa, Bukan Hak Semua

Salah satu persoalan paling nyata dalam pendidikan Indonesia adalah kesenjangan kualitas dan fasilitas. 

Di satu sisi, ada sekolah dengan fasilitas lengkap, teknologi memadai, dan akses informasi yang luas. 

Namun di sisi lain, masih banyak sekolah yang kekurangan ruang kelas, buku, bahkan tenaga pengajar. Perbedaan ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara satu daerah dengan daerah lain.

Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi juga menyangkut kesempatan. Siswa yang belajar dalam keterbatasan harus berjuang lebih keras untuk mencapai hasil yang sama. 

Mereka tidak hanya belajar materi pelajaran, tetapi juga harus menghadapi hambatan yang seharusnya tidak ada. Dalam jangka panjang, kondisi ini menciptakan ketidakadilan yang sistemik.

Gagasan pendidikan sebagai alat pembebasan pernah ditekankan oleh Ki Hajar Dewantara. Ia menegaskan bahwa pendidikan harus memerdekakan manusia, bukan membatasi. 

Namun kemerdekaan itu sulit terwujud jika akses terhadap pendidikan masih timpang. Kebebasan belajar tidak akan bermakna jika tidak semua memiliki kesempatan yang sama untuk belajar.

Lebih jauh lagi, ketimpangan ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi hak yang setara bagi semua. Padahal, pendidikan adalah alat utama untuk memutus rantai kemiskinan. 

Ketika akses pendidikan tidak merata, maka peluang untuk keluar dari keterbatasan juga ikut terhambat. Ini bukan hanya masalah pendidikan, tetapi juga masalah keadilan sosial.

Pemerataan pendidikan sering menjadi wacana, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan. Program-program yang ada belum mampu menjangkau semua wilayah secara efektif. 

Banyak daerah yang masih tertinggal dan belum mendapatkan perhatian yang memadai. Akibatnya, kesenjangan terus berulang dari tahun ke tahun.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pendidikan hanya akan menjadi milik mereka yang beruntung. Dan ketika pendidikan kehilangan sifat inklusifnya, maka masa depan bangsa pun ikut dipertaruhkan.

Mereka yang Mengajar, Namun Tak Sepenuhnya Dihargai

Di balik setiap proses pendidikan, ada peran guru yang tidak tergantikan. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan pembentuk karakter. 

Namun realitas menunjukkan bahwa tidak semua guru mendapatkan penghargaan yang layak, terutama guru honorer yang masih bergulat dengan kesejahteraan yang minim.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan penghargaan. 

Guru dituntut profesional, kreatif, dan berdedikasi, tetapi tidak selalu didukung dengan kesejahteraan yang memadai. 

Hal ini tentu berdampak pada motivasi dan kualitas pengajaran. Sulit mengharapkan hasil maksimal jika kebutuhan dasar saja belum terpenuhi.

Pemikir pendidikan seperti Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi agen pembebasan. 

Namun bagaimana mungkin guru menjalankan peran tersebut jika mereka sendiri berada dalam kondisi yang tidak manusiawi secara ekonomi?

Lebih dari itu, guru honorer sering kali tidak memiliki jaminan masa depan yang jelas. Status mereka yang tidak tetap membuat posisi mereka rentan. 

Mereka bisa kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu tanpa kepastian. Dalam situasi seperti ini, profesi guru menjadi kurang menarik bagi generasi muda.

Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru. Jika guru tidak sejahtera, maka sulit untuk menjaga kualitas pendidikan secara keseluruhan. 

Pendidikan yang baik membutuhkan tenaga pendidik yang fokus dan tidak terbebani oleh masalah ekonomi.

Mengabaikan kesejahteraan guru sama dengan mengabaikan masa depan pendidikan. Dan jika guru terus berada dalam ketidakpastian, maka keprihatinan dalam dunia pendidikan akan terus berlanjut.

Terus Berubah, Namun Belum Menemukan Arah

Perubahan kurikulum sering kali dipahami sebagai upaya untuk menyesuaikan pendidikan dengan perkembangan zaman. 

Secara prinsip, ini adalah langkah yang wajar. Namun ketika perubahan terjadi terlalu sering, muncul kebingungan di tingkat pelaksana.

Guru dan siswa harus terus beradaptasi dengan sistem baru yang belum tentu lebih baik. Setiap perubahan membutuhkan waktu untuk dipahami dan diterapkan. 

Namun ketika perubahan datang terlalu cepat, proses adaptasi menjadi tidak optimal. Akibatnya, tujuan pendidikan menjadi kabur.

Pemikiran John Dewey menekankan bahwa pendidikan harus berangkat dari pengalaman yang berkesinambungan. 

Artinya, perubahan harus bersifat reflektif dan terarah, bukan sekadar pergantian yang sporadis. Tanpa kesinambungan, pendidikan kehilangan fondasinya.

Siswa pun ikut terdampak dari ketidakstabilan ini. Mereka belajar dalam sistem yang terus berubah, tanpa kepastian arah yang jelas. Dalam beberapa kasus, mereka menjadi korban dari kebijakan yang belum matang.

Selain itu, perubahan yang tidak konsisten dapat menggerus kepercayaan terhadap sistem pendidikan. Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang stabil dan dapat diandalkan. 

Tanpa itu, sulit membangun kualitas yang berkelanjutan. Akhirnya, jika arah pendidikan terus berubah tanpa kejelasan, maka yang terjadi bukanlah kemajuan, melainkan kebingungan yang dilembagakan.

Belajar Tanpa Aman, Bertumbuh Tanpa Kepastian

Masalah pendidikan tidak hanya terletak pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada pengalaman nyata siswa di sekolah. 

Salah satu persoalan serius adalah rendahnya mutu hasil belajar yang masih menjadi tantangan hingga saat ini.

Banyak siswa yang masih kesulitan memahami materi dasar. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan secara optimal. Pendidikan belum sepenuhnya mampu membangun pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan.

Di sisi lain, isu keamanan di lingkungan sekolah juga semakin mengkhawatirkan. Kasus kekerasan, baik fisik maupun verbal, masih terjadi. 

Hal ini menciptakan rasa tidak aman bagi siswa, yang seharusnya merasa nyaman dalam proses belajar.

Tokoh seperti Maria Montessori menekankan bahwa lingkungan belajar harus mendukung perkembangan anak secara utuh. 

Lingkungan yang aman dan penuh penghargaan menjadi syarat utama bagi tumbuhnya potensi anak.

Ketika sekolah tidak lagi menjadi ruang yang aman, maka pendidikan kehilangan esensinya. 

Siswa tidak hanya gagal belajar secara akademik, tetapi juga mengalami gangguan dalam perkembangan emosional dan sosial. 

Jika mutu belajar rendah dan lingkungan tidak aman, maka pendidikan tidak lagi menjadi ruang pembentukan manusia seutuhnya. Dalam kondisi seperti ini, keprihatinan bukan lagi pilihan, melainkan kenyataan.

Jika Kita Masih Peduli

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap pendidikan. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. 

Ketimpangan, kesejahteraan guru, inkonsistensi kurikulum, hingga masalah mutu dan keamanan, semuanya menjadi tantangan yang nyata.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari seremoni, dan mulai melihat kenyataan dengan jujur. 

Bahwa pendidikan kita belum sepenuhnya baik-baik saja. Dan bahwa masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di ruang-ruang kelas yang masih penuh ketidakpastian.

Jika Hari Pendidikan hanya menjadi perayaan tanpa perbaikan, maka yang kita rayakan bukanlah kemajuan, melainkan keprihatinan yang terus diwariskan. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved