Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Hari Pendidikan atau Hari Keprihatinan?

Masalah pendidikan tidak hanya terletak pada sistem dan kebijakan, tetapi juga pada pengalaman nyata siswa di sekolah. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI GOLDY OGUR
Goldy Ogur 

Lebih jauh lagi, ketimpangan ini memperlihatkan bahwa pendidikan belum sepenuhnya menjadi hak yang setara bagi semua. Padahal, pendidikan adalah alat utama untuk memutus rantai kemiskinan. 

Ketika akses pendidikan tidak merata, maka peluang untuk keluar dari keterbatasan juga ikut terhambat. Ini bukan hanya masalah pendidikan, tetapi juga masalah keadilan sosial.

Pemerataan pendidikan sering menjadi wacana, tetapi implementasinya masih jauh dari harapan. Program-program yang ada belum mampu menjangkau semua wilayah secara efektif. 

Banyak daerah yang masih tertinggal dan belum mendapatkan perhatian yang memadai. Akibatnya, kesenjangan terus berulang dari tahun ke tahun.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka pendidikan hanya akan menjadi milik mereka yang beruntung. Dan ketika pendidikan kehilangan sifat inklusifnya, maka masa depan bangsa pun ikut dipertaruhkan.

Mereka yang Mengajar, Namun Tak Sepenuhnya Dihargai

Di balik setiap proses pendidikan, ada peran guru yang tidak tergantikan. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan pembentuk karakter. 

Namun realitas menunjukkan bahwa tidak semua guru mendapatkan penghargaan yang layak, terutama guru honorer yang masih bergulat dengan kesejahteraan yang minim.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara tuntutan dan penghargaan. 

Guru dituntut profesional, kreatif, dan berdedikasi, tetapi tidak selalu didukung dengan kesejahteraan yang memadai. 

Hal ini tentu berdampak pada motivasi dan kualitas pengajaran. Sulit mengharapkan hasil maksimal jika kebutuhan dasar saja belum terpenuhi.

Pemikir pendidikan seperti Paulo Freire menekankan bahwa pendidikan adalah proses humanisasi. Guru bukan sekadar penyampai materi, tetapi agen pembebasan. 

Namun bagaimana mungkin guru menjalankan peran tersebut jika mereka sendiri berada dalam kondisi yang tidak manusiawi secara ekonomi?

Lebih dari itu, guru honorer sering kali tidak memiliki jaminan masa depan yang jelas. Status mereka yang tidak tetap membuat posisi mereka rentan. 

Mereka bisa kehilangan pekerjaan sewaktu-waktu tanpa kepastian. Dalam situasi seperti ini, profesi guru menjadi kurang menarik bagi generasi muda.

Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru. Jika guru tidak sejahtera, maka sulit untuk menjaga kualitas pendidikan secara keseluruhan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved