Opini
Opini: Kegemaran Membaca dan Membaca Kegemaran
Jadi, literasi bukan sekadar mata melewati huruf. Literasi adalah pikiran yang bekerja setelah huruf dibaca.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026
Oleh: Lasarus Jehamat
Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Data yang menempatkan Nusa Tenggara Timur ( NTT) sebagai provinsi dengan tingkat kegemaran membaca tertinggi di Indonesia perlu dibaca secara kritis ketika dikaitkan dengan kualitas manusia NTT.
Kegemaran membaca tidak otomatis identik dengan kemampuan memahami teks secara mendalam, apalagi mengubah bacaan menjadi pengetahuan, sikap kritis, dan kecakapan hidup.
Orang dapat saja disebut membaca ketika membuka buku, masuk ke perpustakaan, membaca pesan media sosial, bahkan membaca kegemaran orang lain; lucunya, semua itu tetap bisa masuk ke dalam keranjang aktivitas membaca.
Karena itu, angka kegemaran membaca memang baik, tetapi belum cukup untuk menjelaskan mutu literasi dan kualitas manusia yang lahir dari proses membaca.
Baca juga: Opini: Transisi Energi Butuh Peran Kabupaten
Dengan kecurigaan sehat semacam itu, paragraf berikut perlu dibaca sebagai kabar baik yang sekaligus menyimpan teka-teki.
Data terbaru tentang Tingkat Kegemaran Membaca masyarakat Nusa Tenggara Timur terasa seperti kabar baik yang datang sambil membawa teka-teki.
BPS mencatat NTT berada di posisi tertinggi nasional pada 2025 dengan skor 62,05. Angka nasionalnya 54,80.
Jadi, secara statistik, NTT bukan hanya membaca. NTT sedang berdiri di podium sambil memegang buku.
Masalahnya, di belakang podium itu masih ada ruang kelas yang bocor, guru yang letih, anak yang berjalan jauh ke sekolah, dan mutu pendidikan yang belum ikut naik panggung (BPS, 2026).
Di situlah paradoksnya. Minat menyala, kualitas merana. BPS NTT mencatat rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas pada 2025 baru 8,22 tahun, atau belum sepenuhnya setara tamat SMP.
Harapan lama sekolah memang sudah 13,34 tahun, dan IPM NTT naik menjadi 69,89.
Namun, angka-angka ini tetap menunjukkan jarak antara harapan dan kenyataan. Harapan sudah duduk di bangku SMA, realitas masih tertahan di SMP (BPS Provinsi NTT, 2025).
Kembali ke kegemaran membaca. Kegemaran membaca tentu penting. Masyarakat dengan peradaban maju tidak ada yang memusuhi buku.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lasarus-Jehamat-05.jpg)