Opini
Opini: Referendum Nasional- Menimbang Stabilitas di Tengah Badai Kebebasan
Asalkan memiliki pengikut banyak, seseorang bisa menjadi rujukan politik dan budaya, tak peduli seberapa dangkal isinya.
Masalahnya, model kerabat loyal dalam pemerintahan ini justru menciptakan kecurigaan korupsi, kolusi dan nepotisme yang melahirkan kegaduhan tanpa henti.
Referendum Nasional
Melihat kebuntuan ini, Prabowo harus melakukan sebuah bentuk referendum nasional yang sederhana namun mengikat untuk memutus lingkaran setan kegaduhan ini.
Kita tidak bisa terus-menerus membuang energi untuk bertengkar di saat dunia sedang bergeser dari unipolar menuju multipolar yang penuh ketidakpastian.
Skenario referendumnya sederhana. Rakyat diberi dua pilihan kontrak sosial yang jelas untuk 10 tahun ke depan:
Pilihan pertama, mempertahankan demokrasi liberal. Konsekuensinya, kebebasan bicara mutlak, namun pembangunan sering terhambat kegaduhan, pertumbuhan ekonomi stagnan.
Pilihan kedua, memberikan mandat stabilitas penuh kepada pemerintah (Model stabilitas-pertumbuhan).
Konsekuensinya, kebebasan berekspresi dibatasi dan hanya terjadi pada ruang-ruang akademik dan produktif, namun negara menjamin pertumbuhan ekonomi 8 persen, kemiskinan ekstrem nol persen, sekolah dan makan gratis, serta pembersihan total korupsi tanpa intervensi politik.
Sebelum referendum digelar, jalankan masa kampanye selama 3 bulan. Debat-debat konstruktif ditayangkan di TV Nasional dan platform digital. Biarkan rakyat yang memutuskan melalui suara terbanyak.
Jika rakyat memilih Pilihan Kedua, maka itu adalah legitimasi yang sah secara moral dan konstitusional.
Dengan mandat ini, Presiden memiliki legitimasi penuh untuk menertibkan para pengganggu stabilitas, baik dari kalangan oligarki maupun corong-corong masyarakat sipil yang tidak produktif, demi mencapai kesejahteraan yang dijanjikan.
Kita harus berhenti menari di atas bom waktu. Pilihannya adalah tetap mendamba kebebasan semu di tengah kemiskinan, atau membangun fondasi stabilitas yang kokoh terlebih dahulu demi kemandirian bangsa.
Sebagai catatan akhir, tulisan ini adalah pemantik diskusi publik yang lebih luas dan dalam. Saya berharap gagasan ini bisa menjadi diskursus yang dialektis dan produktif. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irvan-Kurniawan.jpg)