Opini
Opini: Referendum Nasional- Menimbang Stabilitas di Tengah Badai Kebebasan
Asalkan memiliki pengikut banyak, seseorang bisa menjadi rujukan politik dan budaya, tak peduli seberapa dangkal isinya.
Prabowo Subianto pernah mengingatkan bahwa jika kekacauan ini dibiarkan, ramalan "Indonesia Bubar 2030" bisa menjadi kenyataan.
Ini adalah kecelakaan sejarah. Kita seolah ingin melompat tinggi tanpa memastikan pijakan yang kuat.
Dahulu, Bung Karno memiliki visi Trisakti: berdikari secara politik, berdaulat secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Namun, beliau keburu digulingkan sebelum Trisakti mengakar.
Hasilnya siklus politik 5 tahunan malah melanggengkan politik uang, melahirkan kepemimpin politik kapitalistik yang pada akhir mempertebal jurang kemiskinan.
Kini, kita dipaksa mendayung perahu demokrasi liberal yang sangat individualistik di tengah rakyat yang masih berjuang untuk sekadar makan.
Bagaimana mungkin nelayan, petani, dan peternak bisa sejahtera di tengah pasar bebas yang kompetitif jika stabilitas sosial mereka terus diguncang oleh kegaduhan politik?
Reset Ekonomi
Presiden Prabowo nampaknya sangat memahami situasi ini, sebagaimana tersirat dalam bukunya, Paradoks Indonesia. Beliau melihat bahwa Indonesia kaya namun salah urus karena kebocoran anggaran.
Selain itu, ketergantungan pada model ekonomi top-down justru melahirkan ketimpangan.
Selama puluhan tahun, uang negara disalurkan ke proyek-proyek besar yang hanya menguntungkan segelintir oligarki, dengan harapan akan "menetes" ke bawah. Faktanya, selang uang itu tersumbat. Rakyat hanya mendapat remah-remah.
Melalui program seperti Danantara, MBG, koperasi merah putih, desa nelayan hingga perumahan rakyat, Prabowo sedang mencoba melakukan reset ekonomi menjadi bottom-up.
Beliau ingin "meledakkan" ekonomi dari bawah agar nasib rakyat kecil meningkat secara langsung. Namun, usaha raksasa ini akan sia-sia tanpa stabilitas ekonomi, sosial dan politik.
Masalah kian pelik karena pemerintah gagal mengomunikasikan kebijakan ini secara efektif. Corong komunikasi istana terasa rapuh, membuat narasi pemerintah mudah tenggelam dalam lautan disinformasi.
Di saat yang sama Prabowo merasa bahwa cara terbaik agar pemerintahannya efektif dengan memasukan orang-orang lingkaran kerabat yang loyal.
Sosok yang paling mencolok misalnya dirut Pertamina, Aloysius Mantiri dan Gubernur BI, Thomas Djiwandono.
Melalui kerabat terdekat Prabowo merasa aman dari ancaman sabotase internal yang akan dilakukan kaki tangan mafia, seiring gencarnya operasi pengembalian kekayaan negara melalui pemberantasa korupsi dan satgas Penertiban Kawasan Hutan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Irvan-Kurniawan.jpg)