Opini
Opini: Menggugat Krisis Ekologi NTT dalam Terang Laudato Si
Paus Fransiskus menekankan pentingnya pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara hidup menjadi lebih sederhana dan bertanggung jawab.
Oleh: Gerardus Taena
Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Krisis ekologi dewasa ini bukan lagi sekadar isu global yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan realitas konkret yang dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, termasuk di wilayah Nusa Tenggara Timur ( NTT).
Wilayah ini menghadapi berbagai persoalan serius seperti kekeringan berkepanjangan, deforestasi, krisis air bersih, serta kerusakan ekosistem pesisir.
Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memperparah kemiskinan struktural masyarakat.
Dalam seruan ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “ rumah kita bersama” yang kini menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya.
Baca juga: Opini: Opini WTP dan Ilusi Akuntabilitas Publik
Krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari krisis moral dan spiritual manusia.
Krisis ekologi di NTT merupakan manifestasi nyata dari kegagalan manusia dalam merawat ciptaan, yang hanya dapat diatasi melalui pertobatan ekologis dan penerapan prinsip ekologi integral sebagaimana diajarkan dalam Laudato Si.
Oleh karena itu untuk menggugat krisis ekologi di NTT saya mencoba menguaknya dalam terang ensiklik Laudato Si, sekaligus menawarkan refleksi kritis dan arah solusi berbasis ekologi integral.
Realitas Krisis Ekologi di NTT
Provinsi Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kerentanan ekologis tinggi.
Krisis air bersih menjadi persoalan utama, terutama di daerah pedesaan yang bergantung pada curah hujan.
Fenomena perubahan iklim memperparah kondisi ini dengan musim kemarau yang semakin panjang dan tidak menentu.
Dalam perspektif Laudato Si, air merupakan hak asasi manusia yang mendasar, namun sering kali tidak tersedia secara adil.
Selain itu, praktik deforestasi akibat pembukaan lahan, penebangan liar, dan aktivitas tambang turut mempercepat degradasi lingkungan.
Hal ini selaras dengan kritik dalam seruan ensiklik Laudato Si terhadap eksploitasi alam yang didorong oleh kepentingan ekonomi jangka pendek tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.
Kerusakan ekosistem pesisir juga menjadi ancaman serius di NTT, dimana penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan serta perubahan iklim menyebabkan menurunnya keanekaragaman hayati laut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gerardus-Taena.jpg)