Rabu, 29 April 2026

Opini

Opini: Referendum Nasional- Menimbang Stabilitas di Tengah Badai Kebebasan

Asalkan memiliki pengikut banyak, seseorang bisa menjadi rujukan politik dan budaya, tak peduli seberapa dangkal isinya.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI IRVAN KURNIAWAN
Irvan Kurniawan 

Itulah sebabnya Trump terobsesi menjadi raja Amerika meski disambut protes “No Kings” dari 8 juta demonstran pekan lalu.  

Trump melihat kelemahan demokrasi yang lamban berhadapan dengan sosialisme komando China yang cepat. Psikologi Trump ini dapat Anda baca pada tulisan saya sebelumnya di media ini berjudul “Mengapa Trump Seperti Ini”. 

Di dalam negeri, sejarah mencatat bahwa era Orde Baru di bawah Soeharto, terlepas dari segala kritiknya, berhasil menurunkan angka kemiskinan secara drastis dari 70 juta jiwa pada tahun 1970 menjadi hanya 25 juta jiwa pada 1993. Stabilitas saat itu memungkinkan pembangunan masuk ke desa-desa tanpa terganggu oleh kebisingan politik di pusat.

Namun, di sisi lain, kita memiliki "corong kebebasan" seperti LSM, aktivis, dan akademisi yang mengagungkan kebebasan sipil. Masalahnya, kebebasan yang kita peroleh pasca-1998 kini terasa telah mencapai titik kebablasan. 

Meminjam istilah dalam diskursus demokrasi kontemporer, kita sedang terjebak dalam demokrasi yang sakit, demokrasi yang malah melahirkan ketimpangan sosial. 

Tak hanya itu, Kebebasan politik setelah reformasi melahirkan korupsi yang terdesentralisasi. 

Jika dulu korupsi hanya ada di lingkaran pusat, kini ia merambat hingga ke desa bahkan RT. 

Kebebasan ekonomi tanpa kendali melahirkan ketimpangan neoliberal, sementara kebebasan berekspresi di era digital justru melahirkan budaya populer yang dangkal dan merusak mentalitas generasi.

Ancaman Post-Truth 

Tantangan terbesar demokrasi kita hari ini adalah kehadiran teknologi digital yang tidak dibarengi dengan literasi dan kualitas pendidikan. 

Di era post-truth (pasca-kebenaran), ruang publik kita mengalami bias informasi yang akut. 

Sulit membedakan mana kebenaran objektif dan mana narasi palsu yang sengaja diviralkan. 

Asalkan memiliki pengikut banyak, seseorang bisa menjadi rujukan politik dan budaya, tak peduli seberapa dangkal isinya.

Bagi generasi milenial dan Gen Z, platform digital adalah bagian dari tubuh mereka. 

Jika platform yang mengedepankan viralitas ini menjadi satu-satunya sumber informasi, maka "Generasi Emas 2045" yang kita idamkan terancam berubah menjadi "Generasi Kayu Lapuk". Di luarnya indah, namun hancur di dalam. 

Di saat yang sama, keran kebebasan yang dibuka lebar di tengah kemiskinan dan rendahnya pendidikan adalah bom waktu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved