Jumat, 17 April 2026

Opini

Opini: El Nino Godzilla, Potensi Bias Risiko dan Arah Kebijakan

Di Indonesia, fenomena ini sering dibungkus dengan istilah sensasional—Godzilla, seolah ancaman harus diperbesar agar dipercaya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI I PUTU YOGA BUMI PRADANA
I Putu Yoga Bumi Pradana 

Oleh: I Putu Yoga Bumi Pradana
Akademisi Kebijakan Publik FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Langit mungkin belum sepenuhnya mengering, tetapi tanda-tanda itu sudah ada. 

Laut yang menghangat di Pasifik tengah dan timur perlahan menggeser arah angin, memindahkan awan, dan mengurangi hujan di wilayah yang selama ini menggantungkan hidup pada musim. 

Inilah yang disebut El Nino—sebuah siklus iklim yang berulang, tetapi selalu menghadirkan konsekuensi yang tidak pernah benar-benar sama.

Di Indonesia, fenomena ini sering dibungkus dengan istilah sensasional—Godzilla, seolah ancaman harus diperbesar agar dipercaya. 

Baca juga: BMKG Umumkan Durasi Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Kering dari Rata-Rata Selama 30 Tahun Terakhir

Padahal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menegaskan bahwa istilah tersebut tidak ilmiah. 

Hal yang lebih penting justru fakta bahwa musim kemarau 2026 diprakirakan datang lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering dari rata-rata klimatologis. 

El Nino mungkin masih berada pada fase lemah hingga moderat, tetapi sejarah menunjukkan bahwa bahkan anomali moderat pun dapat memicu gangguan serius pada pangan, air, dan kesehatan.

Masalahnya bukan pada seberapa kuat El Nino itu datang, melainkan pada bagaimana kita membacanya. 

Di sinilah kesalahan paling mendasar terjadi. Kita terlalu sering membaca cuaca sebagai gejala alam, bukan sebagai risiko sosial.

Di Nusa Tenggara Timur, risiko itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia berlapis. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada September 2025, tingkat kemiskinan di NTT masih berada pada angka 17,50 persen atau lebih dari satu juta jiwa. 

Pada saat yang sama, produksi padi tahun 2024 turun sekitar 7,7 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda rapuhnya daya tahan rumah tangga ketika hujan berhenti lebih lama dari biasanya.

Dalam kerangka Disaster Risk Reduction, risiko bencana bukan hanya fungsi dari hazard, tetapi juga dari kerentanan dan kapasitas (Ben Wisner, 2004). 

Artinya, El Nino tidak otomatis menjadi krisis. Ia menjadi krisis ketika bertemu dengan masyarakat yang rentan dan sistem kebijakan yang gagal mengantisipasi.

Empat Kekeliruan

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved