Kamis, 7 Mei 2026

Opini

Opini: Kenaikan Harga BBM Non Subsidi

Kelas menengah memiliki peran krusial sebagai tulang punggung perekonomian nasional, terutama sebagai motor penggerak konsumsi

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI FRITS FANGGIDAE
Dr. Frits O Fanggidae 

Oleh: Frits O Fanggidae 
Pemerhati Ekonomi, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Kenaikan harga BBM non subsidi (Dexlite, Pertadex, Pertamax Turbo dan Solar Industri) ditandai saling meledek di media sosial. 

Kelompok pengguna BBM subsidi meledek pengguna BBM non subsidi dalam berbagai versi: yah itu resiko orang kaya, beli mobil mewah bisa, gak pantaslah pakai BBM subsidi. 

Percakapan media sosial seperti ini biasa, tetapi yang tidak disadari banyak pihak, utamanya pengguna BBM subsidi, yang sebagian besar mengidentifikasi diri sebagai kelas bawah, adalah dampak sistemiknya, yang pada gilirannya memberi tekanan negatif terhadap semua pihak. 

Kenaikan harga BBM non subsidi pertama-tama menghantam lapisan kelas menengah (pengusaha kelas menengah dan para profesional), kemudian menghantam lapisan kelas atas yang dihuni para penguasaha besar. 

Baca juga: Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi dan LPG 3 Kg Tidak Naik Sampai Akhir 2026

Kelas menengah memiliki peran krusial sebagai tulang punggung perekonomian nasional, terutama sebagai motor penggerak konsumsi domestik. 

Mereka berkontribusi signifikan pada penerimaan pajak, penciptaan lapangan kerja, serta mendorong investasi melalui daya beli yang lebih tinggi. 

Secara sosial, kelompok ini krusial sebagai stabilitator ekonomi, namun seringkali rapuh terhadap guncangan biaya hidup. 

Dalam beberapa tahun terakhir, lapisan kelas menengah di Indonesia telah mengalami penurunan dari sekitar 21 persen menjadi 15 persen. 

Penurunan ini berkontribusi terhadap pengurangan kesempatan berusaha yang  menciptakan pengangguran.

Kondisi demikian akan semakin parah ketika harga BBM non subsidi meningkat sangat tinggi. 

Dalam jangka pendek, akan terjadi penyesuaian pengeluaran kelas menengah, sehingga mobilitasnya berkurang, kapasistas usahanya berkurang, dan pada gilirannya, multiplier effect yang diciptakan dari pengeluarannya berkurang, dan akan berdampak pada pengecilan aktivitas ekonomi. 

Dalam keadaan normal, seorang kelas menengah dapat menciptakan pendapatan bagi kelas bawah sebanyak 4 – 6 orang melalui pengeluarannya. 

Ketika harga BBM non subsidi menggerogoti pendapatannya, mungkin hanya 1 – 2 orang kelas bawah yang bisa menikmati pendapatan dari pengeluarannya. 

Terdapat dampak kehilangan pendapatan yang relatif besar bagi kelas bawah.
Dari perspektif ilmu ekonomi, akan terjadi penurunan permintaan dan penawaran agregat. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved