Opini
Opini: Sosiologi Jenazah
Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.
Dengan menyadari bahwa semua orang pada gilirannya akan mengalami kematian, hal ini akan mendorong kita untuk dapat lebih produktif dan melakukan banyak hal selama masih hidup.
Selain itu, kita akan terbawa pada kesadaran bahwa setiap waktu yang dilalui merupakan sebuah hitungan mundur menuju peristiwa batas akhir kehidupan.
Oleh karena itu, sosok manusia yang terbaring kaku meski secara alamiah tidak mengucap sepatah katapun, namun keterlibatan kita pada peristiwa kematiannya itulah yang mengucapkan segalanya.
Dengan demikian, sosialitas manusia berada pada puncaknya, yaitu ketika seseorang berucap tanpa kata dan memberi makna tanpa suara melalui peristiwa kematian. (*)
Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-S-Sasmita.jpg)