Opini
Opini: Sosiologi Jenazah
Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.
Oleh karena itu, para ilmuwan dengan dibantu teknologi canggih mulai memikirkan bagaimana cara memodifiksi sel-sel dalam tubuh manusia dengan teknologi untuk memperpanjang usia hidup.
Terlepas dari apa pendapat para pemikir di atas dalam melihat kematian, peristiwa itu akan tetap dilihat sebagai pengalaman yang menyakitkan.
Selama belum ada manusia yang dapat hidup abadi, makan kematian merupakan sesuatu yang mutlak terjadi. Di hampir semua budaya manusia, ada berbagai ritus penghargaan terhadap orang yang meninggal.
Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak penulis, mengapa jenazah seseorang yang sudah meninggal begitu dihormati? Aspek apa yang mendorong banyak orang tergerak untuk melakukan hal semacam itu?
Apakah hanya sebatas kewajiban doktrinal dan ritus warisan dari masa lalu, atau ada alasan mendasar lainnya yang memungkinkan tindakan itu dilakukan?
Sosialitas sebagai Hakikat Manusia
Manusia selain sebagai makhluk individual atau personal, ia juga merupakan makhluk sosial. Sosialitas itu sendiri diidentifikasi dari kenyataan bahwa manusia selalu punya tendensi untuk ada bersama orang lain.
Dimensi sosialitas ini juga bertolak dari kenyataan bahwa manusia tidak bisa melahirkan dirinya sendiri. Seseorang harus melalui orang lain untuk dapat hadir atau hidup di dunia ini.
Selain itu, bayi manusia tidak seperti bayi kuda yang langsung berjalan begitu dilahirkan; anak kucing, yang langsung meninggalkan induknya untuk mencari makan saat usianya baru beberapa pekan.
Lain hal dengan bayi manusia yang tak berdaya dan bergantung selama bertahun-tahun kepada orang tuanya untuk ketahanan, perlindungan, dan pendidikan. Karena itu, sosialitas menjadi aspek mutlak sekaligus melekat bagi manusia.
Dalam sejarahnya, keberadaan manusia selalu dengan sesamanya. Dengan kata lain, eksistensi manusia adalah koeksistensi, yang berarti adanya merupakan ada bersama yang lain.
Pada tahap ini, kita dapat menilai bahwa dengan ada bersama orang lain, manusia secara alamiah membutuhkan kehadiran manusia lain.
Hal ini menjadi tuntutan eksistensial dan sulit diingkari. Hubungan inilah yang oleh Heidegger disebut sebagai autentisitas, yang mana secara natural ada tekerbukaan dan penyerahan diri dari seseorang kepada lingkungan dimana ia hidup.
Terdapat beberapa argumen pokok yang mempertegas dimensi sosialitas manusia dengan bertitik tolak pada kenyataan harian manusia, yaitu: pertama, kenyataan bahwa manusia lahir dalam keluarga.
Tempat pertama yang membuat seseorang mengenal dan mengalami admosfir sosialitas adalah keluarga.
Seseorang dapat memaknai sosialitasnya ketika terlebih dahulu mengalaminya dalam lingkungan keluarga. Kenyataan itu berlanjut dalam ruang yang lebih luas seiring bertambah dewasanya seseorang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-S-Sasmita.jpg)