Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Sosiologi Jenazah

Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI AGUSTINUS SASMITA
Agustinus S. Sasmita 

Oleh: Agustinus Silvianus Sasmita
Alumnus Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap orang pernah mengalami rasa kehilangan baik sahabat dekat maupun anggota keluarganya. 

Dalam beberapa kesempatan, penulis mengamati betapa jenazah atau orang yang meninggal sangat dihormati. 

Pemandangan yang hampir familiar misalnya, jalan yang merupakan fasilitas umum dapat ditutup hanya karena ada orang meninggal

Tidak hanya sampai di situ, macet di jalanan untuk mengarak jenazah ke tempat pemakaman sering terjadi. 

Baca juga: Opini: Merenungkan Makna Paskah di Tengah Konflik Mondial

Kebiasaan ini diterima begitu saja dan semua orang memahami situasi tersebut. 

Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.

Saat merenung tema kematian ini, penulis teringat pada apa yang diungkapkan Epikouros, “ketika saya ada, kematian tidak ada. Ketika kematian ada, saya tidak ada”. 

Ungkapan ini terlihat sangat jujur dan rasional. Kematian bukan dilihat sebagai fase menakutkan, karena kejadian itu hanya ada ketika seseorang sudah tidak ada. Artinya, seseorang tidak dapat menyadari bahwa dia mengalami kematian

Kematian, dengan demikian, bukan peristiwa yang dialami atau dirasakan oleh mereka yang meninggal, melainkan suatu situasi batas yang tidak dapat dirasakan. 

Di sisi lain, Martin Heidegger mengungkapkan bahwa “begitu seorang manusia lahir, pada saat itulah dia cukup tua untuk mati”. 

Ungkapan ini menyadarkan kita bahwa kematian bukan melulu karena lanjut usia, melainkan kejadian yang wajar bagi setiap orang yang hidup.

Di era sekarang, melalui perkembangan teknologi, orang mulai berpikir bagaimana menghapus kematian dari manusia. 

Kematian bagi sebagian orang seperti Daniel Kahneman dan Yuval Noah Harari dianggap sebagai masalah teknis yang suatu ketika dapat dipecahkan. Bentuk kepercayaan semacam ini yang disebut sebagai “transhumanisme atau pascahumanisme”. 

Pandangan ini melihat kematian sebagai berhentinya fungsi sel-sel dalam tubuh manusia. 

Oleh karena itu, para ilmuwan dengan dibantu teknologi canggih mulai memikirkan bagaimana cara memodifiksi sel-sel dalam tubuh manusia dengan teknologi untuk memperpanjang usia hidup. 

Terlepas dari apa pendapat para pemikir di atas dalam melihat kematian, peristiwa itu akan tetap dilihat sebagai pengalaman yang menyakitkan. 

Selama belum ada manusia yang dapat hidup abadi, makan kematian merupakan sesuatu yang mutlak terjadi. Di hampir semua budaya manusia, ada berbagai ritus penghargaan terhadap orang yang meninggal

Pertanyaan yang kemudian muncul dalam benak penulis, mengapa jenazah seseorang yang sudah meninggal begitu dihormati? Aspek apa yang mendorong banyak orang tergerak untuk melakukan hal semacam itu? 

Apakah hanya sebatas kewajiban doktrinal dan ritus warisan dari masa lalu, atau ada alasan mendasar lainnya yang memungkinkan tindakan itu dilakukan?

Sosialitas sebagai Hakikat Manusia

Manusia selain sebagai makhluk individual atau personal, ia juga merupakan makhluk sosial. Sosialitas itu sendiri diidentifikasi dari kenyataan bahwa manusia selalu punya tendensi untuk ada bersama orang lain. 

Dimensi sosialitas ini juga bertolak dari kenyataan bahwa manusia tidak bisa melahirkan dirinya sendiri. Seseorang harus melalui orang lain untuk dapat hadir atau hidup di dunia ini. 

Selain itu, bayi manusia tidak seperti bayi kuda yang langsung berjalan begitu dilahirkan; anak kucing, yang langsung meninggalkan induknya untuk mencari makan saat usianya baru beberapa pekan. 

Lain hal dengan bayi manusia yang tak berdaya dan bergantung selama bertahun-tahun kepada orang tuanya untuk ketahanan, perlindungan, dan pendidikan. Karena itu, sosialitas menjadi aspek mutlak sekaligus melekat bagi manusia.

Dalam sejarahnya, keberadaan manusia selalu dengan sesamanya. Dengan kata lain, eksistensi manusia adalah koeksistensi, yang berarti adanya merupakan ada bersama yang lain. 

Pada tahap ini, kita dapat menilai bahwa dengan ada bersama orang lain, manusia secara alamiah membutuhkan kehadiran manusia lain. 

Hal ini menjadi tuntutan eksistensial dan sulit diingkari. Hubungan inilah yang oleh Heidegger disebut sebagai autentisitas, yang mana secara natural ada tekerbukaan dan penyerahan diri dari seseorang kepada lingkungan dimana ia hidup. 

Terdapat beberapa argumen pokok yang mempertegas dimensi sosialitas manusia dengan bertitik tolak pada kenyataan harian manusia, yaitu: pertama, kenyataan bahwa manusia lahir dalam keluarga. 

Tempat pertama yang membuat seseorang mengenal dan mengalami admosfir sosialitas adalah keluarga. 

Seseorang dapat memaknai sosialitasnya ketika terlebih dahulu mengalaminya dalam lingkungan keluarga. Kenyataan itu berlanjut dalam ruang yang lebih luas seiring bertambah dewasanya seseorang.

Kedua, sensasi seksualitas dan emosional yang dimiliki oleh manusia. Perasaan suka, tertarik, dan dorongan seksual selalu mengarah pada aspek eksternal. Dalam kasus khusus, perasaan mencintai atau mengapresiasi dapat diarahkan ke diri sendiri. 

Namun, dalam banyak aspek perasaan tersebut diarahkan pada pribadi di luar diri. Keberadaan perasaan itu mempertegas dimensi sosialitas yang pada kenyataanya merupakan kecenderungan natural manusia. 

Ketiga, bahasa yang digunakan oleh manusia. Bahasa merupakan salah satu aspek yang menunjukan dimensi sosialitas manusia yang tak terbantahkan. 

Bahasa digunakan untuk berkomunikasi atau menghubungkan satu individu dengan individu yang lainnya. 

Karena itu, bahasa (seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Manggarai, dll.) tidak pernah bersifat individual, melainkan bersifat kolektif. 

Oleh karena itu, bahasa menjadi realitas yeng sangat terbuka untuk mengafirmasi dimensi sosialitas manusia.

Keempat, tatanan atau strukturasi yang terdapat dalam kehidupan manusia. Dalam keluarga terdapat struktur seperti istri, suami dan anak-anak. Dalam sebuah negara memiliki struktur kepemerintahannya. 

Seorang atasan disebut atasan karena ada yang membawahinya. Semua tatanan atau struktur tersebut juga mengarah pada tujuan yang mencerminkan dimensi sosial manusia.  

Kematian sebagai Fakta Sosiologis

Hegel menyebut kematian hanya mengambil apa yang temporal dari manusia, yang  bersifat fana dalam dirinya. Kematian tidak memiliki kuasa atas apa yang sesungguhnya manusia itu. 

Kematian pada dasarnya lebih dari sekadar peristiwa empirik-alamiah. Ada dua dimensi yang sekaligus dimiliki kematian, yaitu: lenyap yang alami dan kematian sebagai sebuah peristiwa kelahiran pada dimensi yang lebih tinggi; fase memasuki wilayah spiritual. 

Kematian merupakan tahap transisi dari individualitas menuju universalitas. 
Kesedihan yang dirasakan dalam peristiwa kematian bukan hanya tentang perpisahan, melainkan disebabkan oleh memori dan rasa memiliki dari orang yang hidup atas orang yang meninggal

Selain itu, kesedihan tersebut dikarenakan oleh kenyataan bahwa antara orang yang hidup dan yang mati akan memasuki masa pengharapan panjang untuk dapat berjumpa kembali. 

Peristiwa kematian menjadi momen penelanjangan makna bagi setiap manusia yang hidup. 

Pada titik ini, seseorang akan merasakan pentingnya kebersamaan serta menjadi peristiwa perjumpaan dengan nilai dari sebuah kehilangan. 

Di sisi lain, kematian juga dapat dinilai sebagai keuntungan. Melalui peristiwa kematian, paling kurang, kita dapat meninjau kembali makna sebuah kehidupan. 

Dengan menyadari bahwa semua orang pada gilirannya akan mengalami kematian, hal ini akan mendorong kita untuk dapat lebih produktif dan melakukan banyak hal selama masih hidup. 

Selain itu, kita akan terbawa pada kesadaran bahwa setiap waktu yang dilalui merupakan sebuah hitungan mundur menuju peristiwa batas akhir kehidupan. 

Oleh karena itu, sosok manusia yang terbaring kaku meski secara alamiah tidak mengucap sepatah katapun, namun keterlibatan kita pada peristiwa kematiannya itulah yang mengucapkan segalanya. 

Dengan demikian, sosialitas manusia berada pada puncaknya, yaitu ketika seseorang berucap tanpa kata dan memberi makna tanpa suara melalui peristiwa kematian. (*)

Simak berita, artikel opini atau cerpen POS-KUPANG.COM di Google News

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved