Opini
Opini: Melestarikan Alam sebagai Tanggung Jawab Spiritual
Sadar akan kekecilannya ini, manusia seyogyanya tidak pantas berlagak angkuh seolah-olah ia adalah penguasa alam.
Oleh: Dr. Polykarp Ulin Agan
Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi KHKT ( Kölner Hochschule für Katholische Theologie), Keuskupan Agung Köln, Jerman.
POS-KUPANG.COM - Dalam banyak pemikiran filsuf dan pemikir besar, manusia tidak berdiri sebagai entitas yang terpisah dari alam, melainkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari semesta yang lebih besar.
Pandangan ini, yang juga diungkapkan oleh penulis Jerman, Marie Luise Kaschnitz, menyoroti hubungan manusia dengan alam bukan hanya sebagai ikatan fisik, tetapi sebagai hubungan spiritual yang jauh lebih mendalam.
Dalam karyanya Gott und die Welt (Tuhan dan Dunia, 2026), Kaschnitz mengajak kita untuk melihat alam dari sudut dimensi spiritual,—sebagai sebuah tempat di mana kita bisa merenung, mencari makna hidup, dan merasakan kehadiran Tuhan.
Alam sebagai Medium Spiritual dan Pesan Tuhan
Ajakan Kaschnitz tersebut ingin menempatkan manusia pada posisinya yang benar: bukan pusat semesta, melainkan sekadar bagian kecil di antara ciptaan Tuhan lainnya.
Baca juga: Opini: Manfaat Filsafat untuk Optimalisasi Pembangunan NTT
Sadar akan kekecilannya ini, manusia seyogyanya tidak pantas berlagak angkuh seolah-olah ia adalah penguasa alam.
Keindahan visual alam menghadirkan ruang spiritual,—sebuah cermin yang memantulkan kebesaran Sang Pencipta di baliknya.
Menyimak semuanya ini, manusia hanya mampu „meratapi kekecilannya“, larut dalam kesadaran yang khidmat, seraya menundukkan diri di tengah hamparan heningnya hutan dan luasnya langit.
Bagi Kaschnitz, alam bukan sekadar objek fisik yang dapat dilihat atau dimanfaatkan.
Alam adalah medium yang menghubungkan kita dengan Tuhan, dan setiap elemen di dalamnya—mulai dari daun yang berguguran hingga angin yang berhembus—adalah bahasa Tuhan yang berbicara kepada kita.
Seperti yang ditulis Kaschnitz, “Setiap daun yang berguguran, setiap hembusan angin, adalah suara Tuhan yang berbicara dalam bahasa alam.”
Alam, dalam pandangannya, adalah ruang suci yang sarat dengan makna sakral, tempat di mana kita bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam setiap jejak ciptaan-Nya.
Sayangnya, di era moderen ini, alam tidak sedang baik-baik saja! Ambisi manusia untuk menyulap dunia menjadi „surga hic et nunc“ lewat perkembangan teknologi dan akselerasi pertumbuhan ekonomi telah menuntut harga yang sangat mahal: deforestasi, polusi udara dan air, serta perubahan iklim yang kini sudah menjelma menjadi masalah global.
Secara tidak sadar, relasi spiritual antara manusia dan alam pun kian terkikis.
Nafsu manusia untuk memiliki lebih dan lebih telah membuatnya lupa akan tanggung jawabnya menjaga dan merawat alam. Ia lupa, bahwa dirinya adalah bagian dari alam, bukan penguasanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Polykarp-Ulin-Agan.jpg)