Kamis, 23 April 2026

Opini

Opini: Sosiologi Jenazah

Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI AGUSTINUS SASMITA
Agustinus S. Sasmita 

Oleh: Agustinus Silvianus Sasmita
Alumnus Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap orang pernah mengalami rasa kehilangan baik sahabat dekat maupun anggota keluarganya. 

Dalam beberapa kesempatan, penulis mengamati betapa jenazah atau orang yang meninggal sangat dihormati. 

Pemandangan yang hampir familiar misalnya, jalan yang merupakan fasilitas umum dapat ditutup hanya karena ada orang meninggal

Tidak hanya sampai di situ, macet di jalanan untuk mengarak jenazah ke tempat pemakaman sering terjadi. 

Baca juga: Opini: Merenungkan Makna Paskah di Tengah Konflik Mondial

Kebiasaan ini diterima begitu saja dan semua orang memahami situasi tersebut. 

Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.

Saat merenung tema kematian ini, penulis teringat pada apa yang diungkapkan Epikouros, “ketika saya ada, kematian tidak ada. Ketika kematian ada, saya tidak ada”. 

Ungkapan ini terlihat sangat jujur dan rasional. Kematian bukan dilihat sebagai fase menakutkan, karena kejadian itu hanya ada ketika seseorang sudah tidak ada. Artinya, seseorang tidak dapat menyadari bahwa dia mengalami kematian

Kematian, dengan demikian, bukan peristiwa yang dialami atau dirasakan oleh mereka yang meninggal, melainkan suatu situasi batas yang tidak dapat dirasakan. 

Di sisi lain, Martin Heidegger mengungkapkan bahwa “begitu seorang manusia lahir, pada saat itulah dia cukup tua untuk mati”. 

Ungkapan ini menyadarkan kita bahwa kematian bukan melulu karena lanjut usia, melainkan kejadian yang wajar bagi setiap orang yang hidup.

Di era sekarang, melalui perkembangan teknologi, orang mulai berpikir bagaimana menghapus kematian dari manusia. 

Kematian bagi sebagian orang seperti Daniel Kahneman dan Yuval Noah Harari dianggap sebagai masalah teknis yang suatu ketika dapat dipecahkan. Bentuk kepercayaan semacam ini yang disebut sebagai “transhumanisme atau pascahumanisme”. 

Pandangan ini melihat kematian sebagai berhentinya fungsi sel-sel dalam tubuh manusia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved