Opini
Opini: Taruhan Sikap Ilmiah dalam Nasi Kotak
Siapa pun yang berani berbicara atau bertindak terbalik dari tradisi ini layak disebut subjek. Taruhannya kesetaraan dan sikap ilmiah
Oleh: Gauden Kelore
Alumnus IFTK Ledalero yang menulis skripsi di bawah bimbingan Prof. Dr. Otto Gusti Madung; sekarang tinggal di pedalaman Flores Timur.
POS-KUPANG.COM - Agaknya cukup banyak mahasiswa/i di sejumlah universitas yang pernah sidang proposal atau skripsi tahu ritual ini: beli nasi kotak dan siapkan snack (kadang bahkan dosen request beli di mana).
Ritual ini tentu tak ada di buku panduan akademik. Tapi semua orang tahu. Anehnya, belum ada yang pernah benar-benar bertanya secara terbuka: sejak kapan ujian ilmiah membutuhkan nasi kotak?
Dalam observasi pribadi dan wawancara ringan dengan sejumlah mahasiswa/i, mereka yang akan ujian akan meminta uang lebih dari orang tua hanya untuk mengisi meja penguji dengan snack dan makanan tertentu.
Mereka pun akan meminta teman dekatnya (seperti arisan tenaga) untuk mengurus dan memastikan tak ada yang kurang dari daftar permintaan penguji sebelum mereka sendiri keringatan dihajar rentetan pertanyaan.
Baca juga: Opini: Duduk Melingkar Bersama Guru- Proficiat, Prof. Otto Gusti Madung
Jawaban saat ditanya kurang lebih sama: sudah tradisi, takut dapat nilai buruk, serta bentuk penghormatan.
Ironi Tradisi Ruang Ujian
Ada sejumlah poin ironis bagi keberlangsungan kehidupan akademis. Pertama, ruang ujian proposal/ ujian hasil/ ujian skripsi merupakan ruang yang dirancang ilmiah, kritis, dan objektif.
Tapi bukan hanya nasi kotak dan snack sama sekali tak ilmiah apalagi kritis melainkan juga lantaran bagaimana mungkin objektivitas penilaian bisa dijaga jika bahkan di ruangan itu ada transaksi antara penilai dan yang dinilai?
Lalu, bukankahkah para dosen adalah pihak yang paling tahu bahwa dalam penelitian ilmiah praktik di atas tergolong conflict of interest?
“Tradisi ruang ujian” ini dengan begitu tak lolos ujian logika paling dasar sekalipun. Kedua, kampus (termasuk ruang ujian) merupakan ruang kebebasan berpikir dan keberanian intelektual.
Malah, bagi Prof. Otto, sebagaimana selalu diulang, sikap ilmiah tidak pernah boleh netral.
Sebagai tindakan etis, sikap ilmiah menuntut keberanian untuk memihak yang disingkirkan dan membongkar praktik mapan yang menindas.
Sialnya, mahasiswa yang sering turun ke jalan sekali pun akan berpikir dua kali sebelum berani tidak menyediakan nasi kotak saat ujiannya.
Kebebasan akademis dan sikap ilmiah rupanya memiliki batas di “tradisi ruang ujian”.
Ketiga, jika praktik dimaksud merupakan tradisi, tradisi jenis ini hanya mengikat satu pihak dan berlaku satu arah. Mahasiswa wajib mengikuti. Dosen “bebas” menerima dengan rumusan andalan “yaa, kalau kamu ingat jasa kami …”.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Otto-Gusti-Madung-03.jpg)