Opini
Opini: Sosiologi Jenazah
Kematian menjadi pengalaman kehilangan kolektif sekaligus peristiwa urutan yang kapan pun dapat menghampiri siapa saja.
Kedua, sensasi seksualitas dan emosional yang dimiliki oleh manusia. Perasaan suka, tertarik, dan dorongan seksual selalu mengarah pada aspek eksternal. Dalam kasus khusus, perasaan mencintai atau mengapresiasi dapat diarahkan ke diri sendiri.
Namun, dalam banyak aspek perasaan tersebut diarahkan pada pribadi di luar diri. Keberadaan perasaan itu mempertegas dimensi sosialitas yang pada kenyataanya merupakan kecenderungan natural manusia.
Ketiga, bahasa yang digunakan oleh manusia. Bahasa merupakan salah satu aspek yang menunjukan dimensi sosialitas manusia yang tak terbantahkan.
Bahasa digunakan untuk berkomunikasi atau menghubungkan satu individu dengan individu yang lainnya.
Karena itu, bahasa (seperti bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Manggarai, dll.) tidak pernah bersifat individual, melainkan bersifat kolektif.
Oleh karena itu, bahasa menjadi realitas yeng sangat terbuka untuk mengafirmasi dimensi sosialitas manusia.
Keempat, tatanan atau strukturasi yang terdapat dalam kehidupan manusia. Dalam keluarga terdapat struktur seperti istri, suami dan anak-anak. Dalam sebuah negara memiliki struktur kepemerintahannya.
Seorang atasan disebut atasan karena ada yang membawahinya. Semua tatanan atau struktur tersebut juga mengarah pada tujuan yang mencerminkan dimensi sosial manusia.
Kematian sebagai Fakta Sosiologis
Hegel menyebut kematian hanya mengambil apa yang temporal dari manusia, yang bersifat fana dalam dirinya. Kematian tidak memiliki kuasa atas apa yang sesungguhnya manusia itu.
Kematian pada dasarnya lebih dari sekadar peristiwa empirik-alamiah. Ada dua dimensi yang sekaligus dimiliki kematian, yaitu: lenyap yang alami dan kematian sebagai sebuah peristiwa kelahiran pada dimensi yang lebih tinggi; fase memasuki wilayah spiritual.
Kematian merupakan tahap transisi dari individualitas menuju universalitas.
Kesedihan yang dirasakan dalam peristiwa kematian bukan hanya tentang perpisahan, melainkan disebabkan oleh memori dan rasa memiliki dari orang yang hidup atas orang yang meninggal.
Selain itu, kesedihan tersebut dikarenakan oleh kenyataan bahwa antara orang yang hidup dan yang mati akan memasuki masa pengharapan panjang untuk dapat berjumpa kembali.
Peristiwa kematian menjadi momen penelanjangan makna bagi setiap manusia yang hidup.
Pada titik ini, seseorang akan merasakan pentingnya kebersamaan serta menjadi peristiwa perjumpaan dengan nilai dari sebuah kehilangan.
Di sisi lain, kematian juga dapat dinilai sebagai keuntungan. Melalui peristiwa kematian, paling kurang, kita dapat meninjau kembali makna sebuah kehidupan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Agustinus-S-Sasmita.jpg)