Cerpen
Cerpen: Pencuri Durian
Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.
Untungnya, waktu itu pinjam uang dari koprasi. Tapi sampai sekarang utang koprasi itu belum juga selesai dilunasi. Tiap minggu tagihan datang. Bunganya membengkak.
Sementara Kraeng Osep larut dalam pemikiran, seorang petugas koprasi muncul di pintu. Panik menyelimuti hatinya. Beban bertambah.
Bingung mau beri alasan apa dengan pegawai koprasi itu. Meskipun begitu, ia tetap bersikap ramah menyambut pegawai koprasi itu.
“Ite punya empat bulan terakhir belum pernah bayar. Hari ini bagaimana saja caranya uang harus ada. Besok pagi kalau tak lunas, rumah ini kami pasang plang,” kata pegawai koprasi itu dengan kesal.
“Iya pak. Saya tahu, tapi jangan plang rumah ini. Saya malu dicemoohin orang-orang di kampun ini. Sebentar saya usahakan uangnya dan segera transfer,” jawab Kraeng Osep penuh permohonan. Kraeng Osep lalu menawari minuman kepada pegawai koprasi itu.
“Tidak usah. Saya tidak mau tau, sebentar uangnya harus ada. Paling lama besok pagi uangnya sudah masuk rekening. Ingat itu!” pinta pegawai koprasi itu tegas, lalu pegi.
Kraeng Osep sedikit lega ketika pegawai koprasi itu pergi. Tapi hatinya tidak tenang. Ia bingung cari uang di mana.
Saat tengah malam, Kraeng Osep tidak bisa tidur. memikirkan uang untuk bayar koprasi. Pikirannya penuh bayangan plang di rumahnya.
Ia bangun dari tempat tidur dan langsung pergi ke dapur. Ia mengambil beberapa lembar karung goni, parang, sepatu bengkap dan topi.
“Kau mau ke mana tengah malam begini?” bentak istrinya.
“Curi durian di kebun Guru Rofinus.”
“Apa kau gila! Kalau ketahuan, mereka akan bunuh kau,” bentak istrinya, panik.
“Kau yang gila! Kau mau cari di mana lagi uang untuk bayar koprasi besok. Atau kau mau supaya rumah ini dipasang plang oleh koprasi dan kita diusir?”
Mereka bertengkar hebat. Kedua anaknya terbangun. Apri menangis ketakutan, tapi tak berani mendekat. Kraeng Osep hampir menebas istrinya dengan parang, untung saja istrinya cepat masuk ke kamar.
“Durian di kebun Guru Rofinus sudah mereka taruh obat! Burung bengkak baru kau tau nanti,” teriak istrinya dari dalam kamar.
“Omong kosong!”
“Terserah kau. Tapi, jangan mencuri. Tidak baik!”
Kraeng Osep abaikan celotehan istrinya. Ia keluar lewat pintu dapur menuju kebun durian Guru Rofinus. Kebun itu agak jauh dari kampung membuat ia nekat.
Tanpa senter, ia mengendap-endap menuju kebun itu, tapi jantungnya berdegup kencang. Saat tiba, ia begitu senang melihat durian berserakan di tanah. Ia mengumpulkan semuanya ke dalam karung. Dua karung goni penuh.
Hampir subuh, Om Rinuh dan Om Mikel mengendap pelan-pelan dari belakang. Kraeng Osep kaget melihat mereka berdua. Tubuhnya gemetar.
“Tenyata kau monyet pencuri durian selama ini. Pantasan durian orang-orang di kampun ini hilang,” kata Om Rinuh, marah sambil menarik kerah baju Kraeng Osep.
Om Rinuh dan Om Mikel disuruh Guru Rofinus menjaga kebun durian itu agar tak dimakan monyet.
Guru Rofinus kesal karena monyet biasanya memakan durian-durian, entah besar maupun kecil. Tapi malam itu bukan monyet, melainkan Kraeng Osep.
“Sudah berapa kali kau mencuri durian-durian ini?” tanya Om Rinuh
“Baru pertama kali,” jawab Kraeng Osep, lirih.
“Omong kosong! Kau jujur saja. Pasti kau curi durian saya juga,” tantang Om Mikel
Kraeng Osep berlutut, memohon agar jangan diberitahu ke orang-orang di kampung. Tapi mereka tak menjawab dan membawanya ke rumah Guru Rofinus.
Guru Rofinus kaget, seolah tak percaya. Ia mengenal Kraeng Osep seorang yang sopan dan jujur. Kraeng Osep berlutut lagi di hadapan Guru Rofinus, memohon ampun dan siap untuk ganti rugi.
“Maafkan saya, tuan guru. Saya bersalah, tapi jangan menghukum saya,” mohon Kraeng Osep, penuh kasihan.
“Kenapa kau curi?” tanya Guru Rofinus. Ia menyuruh Kraeng Osep untuk duduk di sampingnya.
Kraeng Osep menceritakan semua masalah yang sedang ia hadapi; utang koperasi mingguan yang mendesak dan iuran paroki yang menumpuk.
Hanya mencuri durian satu-satunya pilihan untuk melunasi semua utang itu. Guru Rofinus terharu dengan cerita Kraeng Osep.
“Kalau ada masalah dalam keluarga, omong baik-baik dan cari solusi yang lebih bijak. Jangan mencuri. Itu dosa besar,” kata Guru Rofinus.
Guru Rofinus pun memaafkan Kraeng Osep, bahkan membantunya untuk melunasi tunggakan koprasi dan iuran paroki. Mendengar itu, Om Rinuh dan Om Mikel tak terima.
“Tidak boleh begitu Guru Rofinus! Kraeng Osep itu pencuri. Harus dihukum!” kata Om Rinuh.
“Dia hanya berpura-pura sedih. Durian orang-orang di kampung ini hilang karena dia” tambah Om Mikel.
Guru Rofinus tersenyum dan menasehati Om Rinuh dan Om Mikel agar tidak mudah menghakimi.
Namun, mereka tetap tak terima. Lalu, mereka menceritakan ke semua orang di kampung bahwa Kraeng Osep adalah pencuri durian-durian yang selama ini hilang.
Selain keluarga Guru Rofinus, orang-orang di kampung itu menyebut keluarga Kraeng Osep sebagai keluarga pencuri.
Kraeng Osep dan istri serta kedua anaknya tak tahan membendungi setiap olokan itu.
Kraeng Osep bersama keluarganya memutuskan untuk keluar dari kampung dan pergi merantau. (*)
*) Krisogonus Kusman, biasa disapa Gonsi atau Gogon adalah seorang mahasiswa Filsafat semester VI pada Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Selain sebagai mahasiswa, Gonsi merupakan calon imam misionaris religius dalam Serikat Sabda Allah (SVD). Selama di Ledalero, Gonsi suka membaca dan menulis sastra khususnya cerpen.
Simak terus berita, cerpen dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petik-durian-ilustrasi.jpg)