Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Opini: Dari Debat Kusir

Dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan saling memahami dan memperkaya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik Asia – Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Tahun 1995, penulis mendapatkan kesempatan tak terlupakan. Bersama seorang rekan dari RitapireT (alm Rm Marcel Lamuri), kami mewakili STFK Ledalero mengikuti kegiatan tinggal dan belajar selama 1 bulan di kampus Sekolah Tinggi Teologia Kupang. 

Pada tahun yang sama, dua mahasiswa dan satu dosen calon pendeta akan bergantian tinggal dan belajar di Ledalero.  

Tidak ada agenda besar. Yang dikejar dan dipesan agar masing-masing menimba pengalaman  ada, hidup, dan berinteraksi bersama. Yang dikejar bukan berdebat tentang perbedaan doktrin tetapi mengalami dialog kehidupan.  

Penulis mendapatken pengalaman berharga seperti berinteraksi dengan tokoh Protestan ternama, Pdt Leonidas Raja Haba (1925-2011).  

Baca juga: Opini: Jalan Berlubang dan Politik Kewargaan

Kami juga berkunjung dan bermalam di tempat pembincaan calon pendeta di gubuk yang terbangun di perbatasan Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara (TTU), tempat para calon pendeta ditempah. 

Pengalaman berharga ini sengaja saya hadirkan demi mencermati ‘diskusi’ yang kian memanas antar beberapa pemuka dari dua gereja: Katolik dan Prostetan. 

Keduanya justru begitu intens membahas masalah-masalah yang sudah ratusan tahun dipedebatkan: otoritas Gereja, peran Paus, sakramen, Maria, para kudus, hingga penafsiran Kitab Suci bisa ‘bertemu’ dalam diskusi? 

Mungkinkan dua tradisi dengan keyakinan akan kebenarannnya masing-masing dapat mencapai sebuah ‘titik temu’ di baliknya? 

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang pasti, perdebatan itu kian menjadikan masalah ini tambah ‘seksi’. Antar pendukung mengelu-elukan jagoannya sambil mengklaim bahwa lawannya terkeok bagai kena uppercut atau pukulan overhead dalam tinju. 

Lebih lagi dalam perdebaatan itu nyaris ada juri yang memutuskan siapa yang benar. Yang terjadi, wasit menyediakan momen agar masing-masing mengungkapkan libido intelektualnya, tidak lebih dari itu. Kalau demikian maka diskusi itu tidak lebih bersifat kusir. 

Klaim ini tidak berlebihan.  Satu tokoh yang banyak berbicara mengenai pentingnya dialog adalah Paus Yohanes XXIII, penggagas Konsili Vatikan II. 

Ia menyadari bahwa Gereja tidak dapat terus hidup dalam tembok-tembok eksklusivisme. Konsili Vatikan II kemudian melahirkan dokumen penting Unitatis Redintegratio yang mengajak umat Katolik untuk melihat saudara-saudari Kristen dari denominasi lain bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesama murid Kristus yang juga telah menerima baptisan dan berusaha mengikuti Tuhan menurut keyakinan mereka.

Pandangan ini kemudian diperkuat oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ut Unum Sint (1995). 

Ia menegaskan bahwa upaya persatuan umat Kristiani tidak akan dicapai melalui saling menyerang atau saling mengalahkan dalam perdebatan teologis, melainkan melalui dialog yang jujur dan penuh kasih. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved