Senin, 1 Juni 2026

Cerpen

Cerpen: Menanti Samudera Mengering

Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Arie Putra *

POS-KUPANG.COM - Persis di awal bulan Agustus, lelaki itu menjadi kekasihku yang kedua. Sebenarnya aku masih memiliki seorang lelaki yang telah lumayan lama hinggap di hati. 

Kekasih pertamaku itu hidup dan bertumbuh di tempat yang jauh. Walaupun sering ia mengirimiku pesan lewat media sosial yang menjadi sarana bagi kami untuk menyingkat jarak, lelaki kedua ini telah memberiku alasan untuk meninggalkannya di tempat yang jauh itu. 

Begitu cepat aku berpaling. Lebih cepat dari percikan kilat. Begitu kekasih pertama itu menggambarkannya. 

Hari-hari pun berlalu. Pelan-pelan segala ingatan tentang kekasih pertamaku pudar. 

Meski masih ada sisa kenangan di dasar pikiran, aku segera mencampakkannya. 

Baca juga: Cerpen: El Samoa

Kekasih kedua menggantikan semua yang pernah aku alami  serta menambahkan segala yang belum pernah aku dapatkan. 

Tambahan-tambahan itulah yang urung diberikan oleh lelaki pertama padaku. Dan itu kekurangannya sebagai lelaki.

“Kekurangan adalah penolakan atas tanggungjawab, bukan?” katanya

“Lalu kau hadir dan ada untuk menerima tanggungjawab, kan?” balasku.

“Persis,” jawabnya lirih. Ia kadang merasa tak nyaman jika pertanyaan dari mulutnya dijawab pula dengan pertanyaan. 

Tetapi ia mengagumiku karena keenggananku untuk menyediakan jawaban. Ia memang mengimpikan perempuan yang pandai merumuskan pertanyaan ketimbang mengganggukkan jawaban-jawaban. 

“Tak adil memang. Ketika saya merenggutmu dari kekasihmu itu. Tetapi, tak ada kenyataan yang adil. Itu konsep belaka,” tiba-tiba ia melanjutkan percakapan. 

Suara deburan ombak mengisi celah di pikiran kami. Aku melemparkan pandangan ke arah lautan di mana beberapa kapal sedang berlabuh. Pikiranku masih berusaha untuk menanggapi apa yang baru saja dikatakan. 

“Tindakan yang tidak adil. Tapi kau mempertanggungjawabkan konsep itu,” balasku sekenanya seraya menitipkan senyum kecil di matanya. Sebenarnya aku ingin bertanya, itukah cinta? Akan tetapi pecah tawanya membuyarkan niat itu. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved