Cerpen
Cerpen: Pencuri Durian
Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.
“Setiap hari, durian jatuh lalu hilang. Saya sendiri belum pernah makan itu durian!”
Tak hanya Om Rinuh dan Om Mikel, Guru Rofinus juga mengeluh hal yang sama.
Lima pohon durian di kebunnya berbuah lebat, tapi setiap kali jatuh selalu saja hilang. Durian di desa itu tahun-tahun sebelumnya tak pernah hilang.
Baru tahun ini mengalami terjadi kehilangan.
“Kalau Kraeng Osep punya?” tanya Pator Rikar, sambil mengarahkan pandangan kepada Kraeng Osep.
Kraeng Osep tersenyum sambil garuk-garuk kepala. Malu saat ditanya Pastor Rikar. Ia sadar diri bahwa di kampung ini, hanya ia yang tak menanam durian.
“Dia tidak ada durian, pastor,” potong guru Rofius.
“Betul pastor. Di kampung ini hanya Kraeng Osep saja yang tak ada tanam durian,” sambung Om Rinuh.
Kraeng Osep tersenyum lagi, tak membantah sekata pun. Tapi ia tak seperti mereka, selalu mengeluh soal durian-durian yang hilang.
Barangkali Kraeng Osep satu-satunya orang di kampung itu yang tak pernah mengeluh saat musim durian tiba.
“Kraeng Osep suka makan durian?” tanya Pastor Rikar lagi.
“Iya pastor,” jawabnya dengan suara pelan. Suaranya hampit tak terdengar.
“Lalu kenapa tidak tanam? Jangan bilang karena malas,” ujar Pastor Rikar sambil tertawa, sekadar kelakar.
“Bukan, pastor. Itu hari saya pernah coba tanam, tapi selalu saja mati. Makanya saya tidak mau coba lagi.”
Pastor Rikar pamit pulang ke pastoran, karena harus memimpin misa di stasi lain. Waktu terbatas, meski obrolan masih hangat.
Pastor Rikar sadar bahwa membuat misa untuk umat yang sedang membutuhkan lebih diutamakan. Semua pun ikutan bubar, kembali ke rumah masing-masing.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/petik-durian-ilustrasi.jpg)