Rabu, 15 April 2026

Cerpen

Cerpen: Pencuri Durian

Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.

Editor: Dion DB Putra
FOTO ILUSTRASI BUATAN AI
ILUSTRASI 

Oleh: Krisogonus Kusman *

POS-KUPANG.COM - Selepas misa hari Minggu, Kereng Osep masih duduk di dalam kapela. 

Ia berdoa sendirian di bangku bagian tengah. Ia menundukan kepala, tangan berkatup dan bibirnya komat-kamit melantunkan  doa. 

Entah apa yang ia doakan. Suaranya kecil. Tuhan saja yang tahu. Di altar, Pastor Rikar masih membereskan peralatan misa bersama bapak dewan stasi. 

Kurang lebih lima menit kemudian, Kraeng Osep keluar.  Di teras kapela, bapak-bapak seumuran Kraeng Osep masih berkumpul, bercerita tentang cuaca yang sulit dimengerti. 

Baca juga: Cerpen: Dua Garis Hidup

Sedangkan ibu-ibu sudah pulang lebih dahulu. Barangkali buru-buru mau memasak untuk makan siang keluarga. 

Hanya ibu Lina saja yang masih tersisa. Ia menemani suaminya, Guru Rofinus. Lagipula Ibu Lina tak sibuk urusan memasak. Mereka keluarga kaya. 

Di rumah ada pembantu untuk urusan dapur. Tak perlu repot, pulang tinggal makan. 

Kebetulan, Pastor Rikar turut bergabung dalam perkumpulan itu. Kraeng Osep mendekati sekaligus mau menyalami Pastor Rikar. 

Obrolan mereka bergeser ke pertanian dan hasil kebun, topik yang sering jadi santapan harian di desa itu.

“Bagaimana durian tahun ini di sini, banyak ka?” tanya Pastor Rikar. 

“Aiii... pastor, buahnya lebat sekali, tapi kebanyakan hilang,” jawab Om Rinuh.

“Kenapa bisa begitu?”

“Monyet terlalu banyak di kebun.” 

“Iya, saya punya di belakang dapur juga begitu, Pastor. Selalu saja ada yang hilang, padahal tak ada monyet,” timpal Om Mikel, nada suaranya sedikit kesal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved